Ayo Tuliskan!!

Laman

Selasa, 24 Juli 2012

Bidan Eulis Rosmiati : Sang Teladan dari Ujunggenteng


 
Penugasannya sebagai bidan, telah membawa Eulis muda ke desa Ujung Genteng - sebuah desa terpencil dengan garis pantai yang indah di pesisir selatan Jawa Barat. Saat itu - tahun 1991, Eulis muda yang belum lama menyelesaikan pendidikannya sebagai bidan di Bandung, sempat mengalami pergumulan sesaat sebelum memutuskan menerima penugasan di daerah yang berkarakteristik berbeda dengan daerah asalnya tersebut. 

Minimnya sarana dan infrastruktur, sulitnya medan yang harus ditempuh, membuat Eulis muda hampir menyerah pada saat itu. Namun kondisi yang sulit tersebut justru menjadi pemacu semangat pengabdian luar biasa yang tersembunyi di dalam diri Eulis.

Eulis menyadari bahwa di daerah yang kondisi geografisnya tidak mudah tersebut, warga sangat mengandalkan kehadiran Eulis yang dituntut untuk sanggup memberikan beragam solusi pada permasalahan kesehatan warga, bukan hanya melulu pada proses persalinan.


Ujung Genteng sendiri merupakan wilayah desa seluas 1.870 HA, dengan 4.438 penduduk, 1.251 KK di mana 58% di antaranya adalah keluarga Pra KS (Pra Keluarga Sejahtera) dan KS1 (Keluarga Sejahtera1). Sebelum Eulis memulai programnya, hanya ada 40% KK yang memiliki WC. Jarak ke Puskesmas terdekat saat ini pun adalah 30 Km, yang harus ditempuh dalam waktu ½ - 1 jam pada siang hari, dengan ongkos transport Rp 50,000,- Melihat kondisi sanitasi yang buruk, dan pola pikir warga yang belum menganggap kesehatan sebagai suatu prioritas penting, Eulis tergerak untuk mengambil berbagai inisiatif perbaikan kesehatan bagi warganya. 

Program yang dibuat Eulis selalu didasari oleh pemahaman akan kebiasaan dan tingkat kemampuan warga desanya. Sosialisasi gagasan dilakukan dengan penyuluhan dalam berbagai pertemuan rutin, hingga sanggup mengubah ketidakmengertian warga menjadi sambutan yang positif atas semua program yang diusulkan.

Beberapa program yang berhasil diciptakan Eulis di desa tempat tinggalnya antara lain adalah: Kelompok arisan WC yang dimulai sejak 1998, dan kredit WC di tahun 2011, yang hingga saat ini berhasil meningkatkan jumlah WC di tiap-tiap RT, sehingga hanya tinggal sekitar 5-10% KK saja yang tidak mempunyai WC. 


Eulis juga menciptakan program arisan yang dimaksudkan sebagai dana cadangan saat diperlukan mendadak untuk pengobatan atau melahirkan. Eulis memberikan nama yang unik untuk masing-masing programnya, berdasarkan pada kemampuan dan mata pencaharian masing-masing penduduk di desa Ujung Genteng. Program itu antara lain diberi nama:
  • Seliber (seliter beras) yaitu pengumpulan beras bagi para warga yang bekerja sebagai petani, dengan cara mengumpulkan 2 sendok beras setiap harinya (pagi dan sore), sehingga setiap bulannya diperoleh 60 sendok beras yang setara dengan seliter beras.
  • Meronce Kasih: program bagi para nelayan, dengan cara mengumpulkan sekilo ikan dengan kualitas paling rendah setiap pergi melaut. 
  • Limaribu Kasih: program bagi para buruh penambang pasir untuk mengumpulkan uang sejumlah Rp 5,000,- setiap bulannya.
  • Sagandu Saminggu (Gandu = takaran gula aren): pengumpulan sisa kerak pada cetakan gula aren bagi para penyadap gula aren. Dari kegiatan ini dapat dikumpulkan sekitar 4 gandu (sekitar 2 kg) setiap bulannya.
Tanpa pernah melalaikan tugas utamanya sebagai bidan, Eulis senantiasa memperhatikan kesehatan dan kesiapan ibu hamil agar dapat menjalani persalinan yang sehat dan selamat. Eulis menggagas program Rumah Singgah, yaitu pemberdayaan rumah warga sebagai tempat persalinan yang layak untuk ibu bersalin. Gagasan rumah singgah timbul pada Eulis karena pengalaman Eulis mengantarkan seorang ibu bersalin yang dalam keadaan kritis dan harus mendapatkan pertolongan di Puskesmas terdekat pada malam hari dan hujan.

Karena medan yang berat, mobil terperosok di salah satu ruas jalan sehingga Eulis membangunkan hampir seluruh warga RT untuk membantu membebaskan mobil yang terjebak di lumpur selama hampir 1 jam. Dari pengalaman tersebut, Eulis mengadakan pendekatan dengan warga, sehingga ada beberapa orang yang bersedia menyediakan rumahnya sebagai rumah bersalin dengan fasilitas dan kondisi yang lebih layak dari pada melahirkan di rumah masing-masing warga. Eulis juga rutin mengadakan Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin) yaitu tabungan rutin di Posyandu atau pada kader, bagi ibu hamil untuk persiapan dana saat melahirkan dan juga menciptakan arisan ibu bersalin untuk mengumpulkan dana bagi kelompok ibu hamil di suatu RT, misalnya Rp 1000,-/ hari/ orang (Rp 30,000,-/ bulan/ orang), yang akan diberikan kepada ibu yang melahirkan terlebih dahulu.

Tidak mau dibatasi oleh akses desanya yang sulit, Eulis menggugah warga untuk mendukung program Ambulan desa, yaitu pemberdayaan kendaraan warga sebagai bantuan untuk mengantarkan ibu hamil, pasien yang sakit, ke rumah singgah terdekat, atau bahkan ke Poskesdes maupun Puskesmas. Bisa merupakan mobil, motor, ataupun atau apapun kendaraan warga yang bersedia untuk digunakan bagi warga yang memerlukan kapanpun juga.

Eulis juga secara kreatif menciptakan program donor darah desa yang diawali dari pemikiran akan sulitnya mendapatkan darah dengan golongan yang diperlukan saat darurat. Eulis melakukan pemeriksaan dan pendaftaran jenis darah dari warga sehingga pada saat darurat, telah tersiap donor yang sesuai. Program lain yang tak kalah bermanfaatnya adalah Melatih Harum (Menanami lahan tidur dan halaman rumah) agar tanah kosong dapat bermaanfaat misalnya sebagai tanaman obat keluarga atau sumber sayuran. Penduduk juga dilatih untuk mendukung gerakan tempat sampah yang diciptakan oleh Eulis, yaitu pembuatan 2 lubang sampah di rumah warga yaitu bagi sampah organic dan sampah anorganik. Meskipun bukan hal yang mudah untuk mengubah perilaku warga dalam membuang sampah.

Eulis sempat mengalami suatu pengalaman yang sangat mengharukan saat mengantarkan seorang pasien mencari pelayanan rumah sakit hingga ke Kabupaten Sukabumi, dan akhirnya ke Bogor. Eulis harus menempuh perjalanan selama 2 hari tanpa persiapan, karena beberapa kali rumah sakit yang dituju tidak dapat menampung pasien tersebut.

Saat ini warga desa Ujung Genteng telah merasakan manfaat yang dihasilkan dari pemikiran Eulis yang kritis dan penuh inovasi. Kegigihan Eulis dan pengabdiannya yang sungguh telah meningkatkan taraf kesehatan warga di desa terpencil itu. Eulis berharap agar suatu hari nanti, di desanya dapat dibangun sebuah Puskesmas, sehingga dalam keadaan darurat, rujukan kesehatan tidak perlu dilakukan terlalu jauh ke Kecamatan Ciracap dengan medan yang sulit.

Tidak ada komentar: