Ayo Tuliskan!!

Laman

Kamis, 26 Mei 2011

“Anak Kesayangan Papa”



Rasa penasaran ini makin mulai mendekati klimaks. Gimana sih anaknya? Sampai bapak begitu sayang sama dia. Apa yang ada didalam dirinya, sampai aku sendiri tak begitu di anggap? SMS itu bukti paling jitu jika dilampirkan, untuk melihat sejauh mana sayangnya bapak sama tuh anak. Andai bapak belum pergi......
Lelaki dengan berkulit sawo matang, dengan tinggi badan 175 cm berpakaian kaos oblong putih dipadukan celana jins serta topi berwarna putih, ditemani tas kecil yang menggantung disamping celana jinsnya. Sekilas tampak terburu-buru meninggalkan MCC dan langsung mencari angkot pasar 45, setelahnya naik angkot kairagi untuk menuju tempat berdasarkan kesepakatannya dengan adik barunya, yang kini status baru itu mulai mengisi lubuk hatinya.
Nada dering mengalun bertanda SMS masuk di HP Arman yang kini sementara di angkot menuju tempat janjiannya dengan adik baru.
“ Kak, udah dimana?”
 SMS dari Dinda, gadis yang kali ini perlahan menyita perhatiannya selepas kematian Bapak seminggu yang lalu. Tentunya sejak dia menginjakan kaki di manado tepatnya ketika HP bapak kini beralih tuan, yang sementara menyendiri di sakunya. Sekitaran seratus lebih SMS bersarang disana. Yang tentunya menyimpan sepenggal kisah “terlanjur sayang” yang tak lain dengan gadis yang akan ditemuinya sekarang ini.
“ Di pal 2, Dinda dimana?” balasnya ke HP seberang.
“ Sementara di jalan kak” SMS masuk, makin membuatnya penasaran.
######
Panas menyengat, jalanan kini tampak seperti  tontonan yang dipenuhi  angkutan yang pada mondar – mandir kayak setrika. Didepan Pasar Segar, seberang jalan posisi Dinda sekarang, sebagaimana janjinya dengan kak Arman. Sosok yang sekarang ini mulai mengambil rasa penasarannya, karena diawali dengan kedekatannya dengan Pak Mahmud, yang seminggu kemarin didengarnya telah meninggal dunia akibat terpeleset di kamar mandi hingga tak sadarkan diri. Dan kini anaknya yang perlahan mulai menggantikan posisi bapak yang telah pergi jauh menghadap pangkuan illahi.
Kenapa aku harus terlibat masalah keluarga orang yang nggak ada hubungan darah? Apa makna dibalik semua ini? Kayak sinetron aja. Banyak statusnya. Binggung.
Dinda bermaksud untuk tidak masuk terlebih dulu menuju Pasar Segar, pasar terbaru yang kini dimiliki manado. Bersaing ketat dengan pasar 45 yang menjadi pasar rujukan kebanyakan  orang. Namun jika bandingkan dari segi fisiknya tentunya begitu berbeda. Pasar segar jauh lebih modis. Yang paling mencolok warna catnya yang berwarna-warna menyejukan mata. Namun tetap saja menurut sebagian orang yang sering Dinda dengar dalam angkotan, ibu-ibu yang pada  sering membanding-bandingkan soal harga . yang intinya harga memang beda tipis, pasar 45 jauh lebih murah.
Dinda masih memilih berdiri di seberang jalan untuk melihat lebih dulu, bagaimana sih modelnya kak Arman?. Ditemani dua anak cewek berseragam putih abu-abu yang sementara nongkrong diseberang jalan sambil ketwa-ketiwi, nggak ngarti deh apa yang di omongin. Bukan nggak ngerti pembicaraanya, tapi lebih pada makna yang diperbincangkan. Cowokkk...yah, apalagi kalo bukan gitu. Pembicaraan  yang paling hangat untuk dijadikan topik anak cewek seusia mereka  sekarang. Namun itu juga suatu hal yang normal dalam usia remaja.
Sejak SMS tadi, belum ada juga lelaki yang turun dari angkotan umum dengan tinggi  175 cm. Menunggu, emank jadi kebiasan.
Tiba-tiba angkot dengan trayek “kairagi” berwarna biru perlahan menurunkan kecepatannya. Dan terlihat seorang pria dengan ciri-ciri yang dikenal Dinda dari penuturan kak Arman lewat pembicaraan di telfon kemarin. Kini langkahnya mulai menuju pasar segar. Dindapun seketika memotong jalan menuju ke pasar segar. Tampak dari kejauhan pria yang tadi dilihatnya sementara di counter pulsa. Dinda berjalan mendekati pria tersebut yang sementara menyebutkan nomor Hp-nya kepada si penjaga counter.
“ Kak Arman kan?” Dinda berucap sambil menunjuk dengan menggunakan telunjuknya .
 “ Iya, ini Dinda ya?” balasnya sambil memberikan selembaran uang kepada penjaga counter.
Arman menjulurkan tangan pertanda salam kenal, namun Dinda menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada untuk membalasnya. Begitulah baginya, meskipun status sodara memang saat ini melekat seiring kedekatannya. Namun tetaplah cahaya islam harus tetap bersemi dalam kedekatan. Keduanyapun sambil berjalan meninggalkan counter pulsa. Berjalan seperti menjauhi dari dalam pasar segar menuju ke luar.
“ Terus mau kemana ini? Dinda sudah makan belum?” tanya Arman memulai kembali sapaan.
“ Terserah kakak aja maunya kemana. Ohh...belum, bentar di rumah saja makannya” balas Dinda.
“ la, kak disini baru dua minggu . jadi belum tahu tempat makan yang halal dimana. Terserah Dinda saja mau makannya dimana. Yahh..hitung-hitung sambil ngobrol sama adik baru kesayangan papa. Besok kan kak pulang ke batam, makanya penasaran pengen ketemu Dinda”
“ Yaudah, kita naik angkot aja kak dari sini cari tempat makan. Karena disini kebanyakan yang punya minhum” jelasnya sambil melihat kanan kiri. Berderetan warung makan jika dilihat dari sebelah kiri, sebelah kanan. Nihil. Adanya warung nasi kuning BOHUSAMI diperbelokan jalan.
“ Oke deh. Dinda aja yang atur” tuturnya kembali.
Keduanya berjalan sampai di depan pasar segar untuk mencari ankot “lapangan”. Menuju warung Unyil yang terkenal dengan Coto Makasarnya yang lezat. Tempat yang bagi Dinda menyimpan kenangan masa lalu  yang harus secara tegas dia tinggalkan. Meskipun sulit.
Selama di ankutan keduanya berbincang bincang untuk menjalin keakraban. Dari sini Dinda tahu ternyata kak Arman berusia 36 tahun dan telah memiliki keluarga dan 2 orang anak, adiknya yang satu lagi di padang. Sementara pak Mahmud adalah papa kandungnya yang telah lama bercerai dengan mamanya, 20 tahun yang lalu. Dinda juga belum lahir tuh. Sementara itu Arman masih dengan pertanyaan yang seabrek tentang asal-usul Dinda hingga kedekatannya dengan papa.
#######
10 menit telah berlalu kini keduanya masuk di warung Unyil. Arman memesan 2 mangkuk coto makasar serta 2 botol teh kotak. Setelah itupun mereka menempati tempat yang tersedia dalam posisi berhadapan. Dan rasa penasaran yang masih menyarang pada keduanya sementara ini menggunting berbagai jaring melalui pertanyaan demi pertanyaan.
“ Nah, kak bisa tahu semua soal Dinda dari siapa? Kok infonya kayak detail banget kak?” Dinda melanjutkan pembicaraan di angkot tadi.
“ Oh, itu karena HP papa sekarang ada sama kakak.  SMS-nya sekitaran seratus lebih masih tersimpan di HP ini, makanya semua yang berkaitan sama papa kakak tahu” Arman menjelaskan sambil menunjukan HP  Nokia 6600 clasic milik papanya.
“ Hah? Jadi gitu ya kak, kirain tahunya dari siap gitu. Oh ya, emank kakak tahu makan Coto Makasar?” tanyanya lagi sambil menuangkan segelas air putih di gelasnya. Haus.
“ Tahulah, masa nggak. Batam kan kota miniatur indonesia makanya, segala makanan khas sudah ada disana. Jadi kalau kak datang ke manado udah nggak kaget lagi sama makanannya. Tinutuan, yah bolehlah. Apalagi  soto makasar.”
Pelayanpun mengantarkan pesanan di meja merekai. Dan ucapan terima kasih tentunya mengalir tanpa perintah.
“ Dinda awalnya kenal sama bapak dimana?” tambahnya sambil memeras jeruk nipis.
“ Gini kak ceritanya, kan sewaktu mau ke kampus hujan. Udah gitu angkot pada susah. Makanya bapak nawarin Dinda waktu itu. Kakak tahu kan? Kalo bapak setiap paginya nyopir buat refresing, bukan cari duit. Nah setelah penumpang laennya udah pada turun, kan tinggal Dinda. Ketika itu bapak bilang bahwa beliau teringat sama ananknya yang ada di padang. Makanya deh dari situ Dinda banyak tanya soal masa lalu bapak, kenapa liat Dinda sampe keingat sama ananknya. Pokoknya banyak deh kak. Nah dari situ kita dekat dan seiring hari bapak ngganggap Dinda kayak anaknya sendiri”. Jelasnya sambil mengaduk-aduk cotonya yang telah ditambahi kecap.
“ Nah terus, kenapa di akhir-akhir  SMS sebelum bapak meninggal kayaknya Dinda lagi marahan sama bapak? Memang bapak punya salah?”
“ Bukannya marahan kak, tapi jujur Dinda kecewa sama bapak sewaktu itu. Bapak udah bohongin Dinda, katanya bapak nggak punya istri sejak perceraian dengan mamanya kakak. Dan semua itu Dinda cari tahu sendiri dari ustad yang tempat tinggalnya masih sekitaran rumah bapak. Dan ternyata bapak itu masih punya istri, dan istrinya itu adalah Dokter Suryani. Dokter yang sering Dinda kunjungi kalo Dinda sakit sewaktu kecil. Wajar kan kalo Dinda kecewa? Wajar juga kan kalo Dinda nggak suka dan kecewa sama sikap Bapak? Makanya Dinda selama sebulan nggak pernah hubungi bapak. Bapak memang hubungi Dinda tapi, Dinda selalu reject dan nggak balas SMS bapak. Dan seminggu sebelum Bapak meninggal baru Dinda ketemu sama Bapak di jalan, itupun Dinda hanya salam saja nggak banyak ngomong sama Bapak. Dan baru tahu juga kalo bapak meninggal dari sepupunya dokter, karena beliau yang nelfon sama Dinda”
Dinda mulai miris jika mengingatnya lagi. Ada ketakutan sebagaimana wanita pada umumya, jika yang dia kenal ternyata menyembunyikan status yang memang penting untuk diketahui. Di KTP saja ada. Tidak mungkin hanya sebatas informasi ditiadakan. Aneh.
“ Iya kak ngerti, maka dari itu kak pengen lurusin kenapa papa sampai bisa kayak gitu. Mungkin papa masih kecewa dengan kita anak-anaknya yang sedikitpun nggak terlalu ngertiin bapak. Setiap kali komunikasi lewat telfon, selalu yang tercipta suasana panas karena perbedaan pendapat. Wajar saja, karena setelah papa cerai selama 2 tahun kita nggak tahu kondisi bapak. Karena papa langsung merantau dan nanti setelah di bandung baru ketemu. Belum lagi beliau dengan istrinya sekarang kan nggak punya anak maka bisa di maklumi bapak sangat merindukan sosok seorang anak yang perhatian, nggak suka ngebantah kayak kakak dan saudara kakak. Dan tentunya sosok itu semuanya ada sama Dinda dengan nilai ples lainnya yang begitu bapak banggain”
“ Ahh... kakak ini bisa saja. Dimakan dulu kak, bentar keburu dingin nggak enak lho” sambung Dinda sambil melahap Coto Makasar makanan kesukaannya.
“ Iya anaknya papa tersayang” canda Arman.
Keduanya melahap semangkuk coto makasar, sesekali bercerita kembali. Setelah selesai Arman minta maaf untuk merokok, seperti kebiasaanya setiap habis makan.
“ Ehh kak, papa tuh nggak ngerokok lho. Kok anaknya nggak ?” Dinda mulai kembali menyambung cerita. Melempar oporan bola keakraban.
“ Iya, kak tahu kalo papa tuh hidup pola sehat. Nggak ngerokok, minum teh, kopi  dan  sebagaimana yang nggak menyehatkan lainnya. Itulah yang kakak banggain dari papa. Beda jauh sama kakak” sanggahnya lagi.
“ Udah tahu kok nggak berubah kak? Memang udah berapa lama kak ngerokoknya?”
“ Sejak SMA kak ngerokok, karena sejak itu juga kak salah arah. Papa kan udah nggak disamping, jadi lebih gampang terpengaruh pergaulan luar”.
“ Kata papa ya kak, kalo orang yang merokok itu kayak nggak tahu membaca aja. Kan disitu sudah jelas kalo ngerokok bisa mengakibatkan  banyak penyakit. Kok masih dibuat? Emank kalo ngerokok apa enaknya sih?”
“ Yahhh.. itu kan papa. Iya sih tapi karena kebiasaan merokok jadinya biasa deh. Emank rokok itu nggak ada enaknya juga, gak ada rasa coklat, fanila or stowberri. Tapi karena kebiasaan dan tentunya Dinda tahu sendiri komposisi rokok itu, makanya kak bisa bilang biasa”
“ Gini deh orang sekarang,  udah tahu tapi banyak tapinya kalo mau merubah. Haha... iklan simpati kali ya ?” ocehnya dengan sedikit sindiran halus.
“ Adek ini bisa saja kalo becandanya” tambahnya.
“ Yaiyalah, masa nggak bisa. Bukan Dinda tuh namanya” balasnya sambil sedikit tertawa.
“ Oh iya, kalo dari SMS yang kak baca kayaknya Dinda lagi punya masalah yah sama pacarnya. Sampe bapak sendiri ikut terlibat kayak  gitu.” Tanyanya penasaran.
“ Sebenarnya bukan pacar sih kak. Tapi kalo penilaian kebanyakan orang memang pantes saja jika diklaim kayak gitu. Karena Dinda sama kak Arif punya perasaan dan harapan yang sama. Tapi nggak kayak pacaran anak sekarang. Yah kak tahu kan?.tapi sebelumnya Dinda itu ngak adopsi pacaran kak. Hanya saja ketika Dinda hampir setahun sakit-sakitan mungkin imannya lagi lowbeth makanya keceplung di dunia ginian. Tapi kak Arif anaknya nggak banyak macem kok. Tapi itu dulu, sekarang nggak lagi. Kita sahabatan saja untuk sekarang. Toh kalo memanang jodoh juga nggak bakalan kemana.” Jelasnya Dinda kembali , setelahnya meminum kembali teh botolnya.
“ Baguslah kalo begitu. Mending Dinda sekarang fokus dulu sama kuliah. insyaAllah jodoh nggak bakalan kemana. Tapi bukan berarti nggak ada usahanya. Tetap saja sama keputusan Dinda. Kak dukung. Pantesan papa sayang banget sama Dinda” Arman menutup pembicaraan.
Setelah kurang lebih beberapa jam mereka ngobrol. Kini mereka segera beranjak untuk pulang. Arman segera menuju kasir untuk membayar. Dinda berjalan meninggalkan tempat duduknya, kini dipinggiran jalan untuk mencari angkotan umum. Tetapi masih satu jurusan. Arman segera berjalan keluar berdiri sejajar dengan Dinda.
“ Kak ngerasa selama ngobrol tadi kayak nggak ada batas” Arman menyimpulkan.
“ Iya juga ya kak, kok bisa ya?”
“ Bagus deh kalo gitu, oh ya besok kak pulang nggak mau diantar nih di bandara?”
“ Yah, besok kan Dinda masih ke kampus. Ada ujian juga kak. Kalo kak datang kesini lagi deh baru di jemput, hehehe” candanya.
Berhubung angkutan telah datang, keduanya masuk sambil melanjutkan obrolan. Dinda turun terlebih dahulu ditutupi dengan salam perpisahan. Kini dia melanjutkan perjalan lagi memasuki lorong yang akan menembus ke rumahnya. Dinda bahagia. Ada lintasan hati yang terukir di sore ini.
Dibalik rahasia ada rahasia, bukan waktu yang akan menjawabnya karena dia hanyalah wadah untuk menata teka-teki . namun jawaban yang terbaik jauh telah tercatat hari, tanggal dan jammya menghiasi episode hari. Bahagia tercipta ketika tali persaudaraan tersambung dengan tali yang indah. Meskipun tidak semua keindahan diawali oleh kebenaran.
Papa, semoga Allah melapangkan tempat perisirahatanmu, mengampuni segala bercak dosamu dan menerima segala amal kebaikanmu.






1 komentar:

Arif Rahman Igirisa mengatakan...

Nah, yang satu ini lagi ada beberapa yang aneh. "Ehh kak, papa tuh nggak ngerokok lho. Kok anaknya nggak ?”

Padahal, Arman perokok sejak SMA.

Jelek banget. Perbanyaklah deskripsi dan narasi. Terlalu banyak percakapan.

Ini cerpen atau naskah drama?