Ayo Tuliskan!!

Laman

Senin, 06 Juni 2011

Yang Terbaik DariNya



Dilema!
Pilihan tak harus ada. Karena hati ini tentunya tak memiliki pilihan. Sudah pasti dirinya, bukan dia. Tapi, kenapa prinsip ini seakan masih kabur? malahan temui jalan buntu. Padahal, sungguh jalan buntu itu tak ada. Fikirannya yang kali ini sementara buntu!
Adi, cowok yang kata kebanyakan temannya alim, berkulit putih dan sipit kini memilih duduk di tangga mesjid. Ada deretan memori tergambar disana, wanita yang mengisi ruang hatinya. Nila, gadis berjibab yang ramah dan lembut. Yang kini masih menempuh study S1-nya di Yogyakarta.
#          #          #
“ Umi dan Abah kan sudah tahu sendiri hanya Nila yang jadi harapan Adi” ucapnya ketika Abah dan Umi mengabarkan maksud pembicaraan di ruang tamu. Setelah kejadian kemarin malam.
“ Iya, Abah mengerti dengan perasaanmu Di, Abah hanya ingin menyampaikan saja apa yang disampaikan teman baik Umi kemarin” ucap Abah yang sementara duduk di kursi tepat disamping Umi.
“ Umi juga nggak maksain kamu untuk memilih Raya, hanya saja kamu perlu mempertimbangkan dulu. Raya itu sholeha juga menurut Umi. Ingat! jangan tergesa–gesa mengambil keputusan” Umi menambahkan. Ada setitik harapan dibalik kata-katanya.
“ Lagian kan kamu yang nantinya menjalani, jadi keputusan Abah dan Umi seutuhnya  adalah keputusan darimu nak. Jangan kecewakan Abah!” nasehat Abah.
“ Iya Bah” jawab Adi singkat.
“ Ya sudah, kamu saja yang atur semuanya. Umi yakin masalah ini nggak bakalan berjalan rumit. Kalo keputusannya sudah ada kabarin Umi dan Abah nanti disampaikan sama teman Umi” Umi menyarankan.
“ Mi, keputusannya kan sudah jelas. Adi nggak bisa terima Raya!” jawabnya. Seketika itu dia permisi dari ruang tamu karena ada telfon.
#          #          #
Meskipun pilihan selayaknya tak ada. Namun fikirannya kini masih jelas terbayang akan sosok wanita yang berjilbab dengan segala keterbatasaanya. Yang semenjak lahir kakinya memang tak bisa berfungsi sebagaimana pada umumnya. Sehingga membuatnya berlabel cacat. Kursi roda yang selalu menjadi tempat setianya. Dialah Raya.
Wanita yang telah seminggu ini begitu akrab dengan kepulangannya. Karena jarak rumah keduanya tak terlalu jauh. Wanita yang telah dianggapnya adik yang begitu luar biasa dengan beragam prestasi yang telah di raihnya hingga tingkat nasional meskipun dalam ruang keterbatasan.
Berbeda dengan dengan perasaan Raya. Raya menggangapnya lebih dari seorang Kakak, diusianya yang akan memasuki 22 tahun ini. Ada perasaan aneh yang kini mengundang musim semi tiba dilubuk hatinya. Semacam mimpi dan harapan yang sama ketika dulu mimpinya menjadi penulis terkenal dan sekarang tinggal mempertahankan. Cukup hati yang tahu nama perasaan aneh itu.
Mimpi itu hadir, meskipun dibalik semua dia merasa tidak pantas untuk menabur harapan yang dalam. Apalagi melihat keterbatsaanya, mungkin menjadi suatu hal yang tidak diinginkan oleh sebagian lelaki. “ Apa kak Adi punya perasaan sama aku ya? Ahh..palingan juga dia nggak ingin pendamping yang cacat seperti aku. Dia kan sudah sarjana, tentunya wanita yang menyukainya banyak. Nggak mungkin milih aku yang cacat kayak ini”
Lirihnya sambil menatap kembali bunga-bunga di taman yang sejak kecil telah menjadi motivasi terbesarnya. Karena dari bunga akhirnya dia sadar bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna sedikitpun. Sama seperti mawar, meskipun indah, cantik, menawan, menjadi pujaan setiap orang, tapi lihatlah dibalik kesempurnaanya. Masih ada banyak duri yang akan siap melukai setiap yang akan memetiknya.
Begitupun dengan dirinya. Kini perasaan minder itu hadir kembali. Membuatnya seakan pergi kemasa silam. Masa yang paling banyak perjuangan untuk bisa mampu mempercayakan diri dalam ruang keterbatasan yang telah dibawanya sejak lahir. Apalagi kalo bukan semangat dan percaya diri yang begitu berperan dalam hidupnya.
#          #          #
“ Ya Allah, jikalah dia memang jodoh hamba permudahkan kami untuk bisa meyakinkan kedua orang tua hamba. Tak ada sedikitpun yang tak mudah disisi-Mu. Namun, jika kami bukan berjodoh permudahkan kami untuk bisa saling melupakan. Dan berikan dia pengganti yang lebih baik dari hamba. Karena hanya engkaulah sebaik-baik pemberi keputusan. Meski perasaan dan harapan kami sama untuk bisa menyempurnakan separoh agama nantinya. Apalah artinya jika tanpa keridhoan-Mu. Sepenuhnya hamba patuh kepada-MU”
Bingkisan doa yang senatiasa Nila lantunkan dipenghujung doa. Setelah mendoakan kedua orang tuanya yang telah tiada.  Dan orang tua angkatnya. Orang tua angkat yang begitu ikhlas menerima dia apa adanya. Dia sadar benar akan sikap kedua orang tuanya yang jelas menerima kedekatannya dengan Adi.
Dia yakin Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik untuk hambanya. Sekalipun yang baik itu terkadang berwujud mengerikan. Namun itulah keistimewaan Tuhan, dibalik semua ada kejutan-kejutan diluar logika manusia. Yang terbaik menurutnya belum tentu itu terbaik menurut pencipta-Nya.
Siapa yang mampu membantah logika? Kalo yang membuat tentunya lebih memahami benar apa yang terjadi dengan ciptaannya. Sama halnya dengan seorang pencipta robot,  tahu benar apa yang terbaik untuk perkembangan robotnya. Karena dialah yang memiliki ide besar dan mampu mengembangakan. Begitu juga halnya dengan Tuhan. Dialah Allah dengan beragam sumber kedahsyatan.
Dia paham bagaimana kondisi saatnya ini. Cukuplah vonis dokter jadi bahan yang teramat baik utuk tempat sandaran atas segala harapan-harapannya. Bayang-bayang kematian seakan menjalari kembali membatasi segala harapan terbesarnya.
Yah, hanya karena masa lalu yang amat kelam. Semua orang tentunya akan muntah jika mendengarkan, jijik yang amat sangat jika melihat putaran masa lalu yang mengerikan. Masa lalu yang menjadikannya kini berubah drastis.
Tapi, tidak dengan Adi. Niat tulusnya yang tak pernah melihat masa lalu Nila yang kelam. Meskipun Nila sendiri telah berulang kali mengatakannya. Namun tetap saja Adi dengan niat tulusnya menerima apa adanya bahwa  di dunia ini tak ada yang sempurna.
Sekalipun banyak orang yang mungkin akan mempertanyakan alasan Adi menyimpan perasaan dan harapan yang sama seperti lelaki pada umumnya. Namun jika ditanya kenapa bisa begitu? Apalagi dengan wanita pengidap HIV, apa untungnya? Cukuplah dia yang tahu. Meskipun cinta datang karena alasan namun tidak bisa dengan mengumbar alasan mengapa harus Nila yang melekat di hatinya. Itulah cinta baginya.
“ Kak, apa kata orang tua Kakak nantinya kalo tahu masa lalu Ade? Malu kak..”
“ Yang jalani siapa? Bukan mereka kan?! Kakak sendiri. Lupakan saja masa lalu De. Lagian bukan seutuhnya kesalahan Ade kan. Si bangsat itu lagian sudah tak ada,  dia telah kembali keasalnya dengan membawa diri menuju ke jahanam!” ucap Adi ketika itu.
Yah, masa lalu. Masa tersuram yang pernah dia miliki. Masa penuh cobaan yang bertubi-tubi. Ketika itu usianya 12 tahun. Karena kebakaran rumah mengakibatkan kedua orang tuanya tewas dilalap api, dan pada akhir cerita Paman memilih untuk merawatnya.
Namun, siapa sangka Paman yang menurutnya tulus ternyata ada maksud yang tak sedikitpun terlintas. Yang kini menjadi trauma besar terhadap setiap laki-laki. Yah, Pemerkosa ! Termasuk Adi yang ketika itu berniat baik menolongnyauntuk  melupakan masa lalu. Namun, trauma itu justru luluh akan dahsyatnya kekuatan cinta.
Dari Nila yang tidak berjilbab karena dia tak ingin orang mengira kalo dia memakai jilbab hanya untuk menutupi aib. Menjadi Nila yang sadar akan penjelasan Adi tentang hakekat jilbab. Dari Nila yang pemurung, tak ingin banyak berkecimpung dengan banyak orang. Menjadi Nila yang aktif dalam berbagai organisasi Mahasiswa. Adi yang menjembatani perubahan drastis Nila. Meskipun sulit toh kini berhasil.
Penyakit menjijikan yang biasanya menempel erat dengan para PSK. Namun apa kata sebuah vonis? Vonis yang sedikitpun tak pernah terlintas dibenaknya kini seolah mengantarkannya pada lembah kecemasan yang amat sangat. Positif HIV! Karena tertular dari Pamannya yang positif HIV.
Pantasan saja berat badannya kini telah turun hampir 10%, kelelahan yang amat sering dia rasakan seolah banyak kerjaan, belum lagi keringat yang sering di malam hari. Daya tahan tubuhnya seakan lagi lowbet akibatnya diare, batuk, flu  mudah menyapanya.
#          #          #
Entah siapa yang mengabarkan sehingga Umi dan Abah akhirnya memutuskan tidak setuju jika anaknya menempatkan pilihan terakhir pada Nila. Nila, yang kini sementara naik daun dikalangan keluarga Adi. Pengidap HIV ! akhirnya Umi dan Abah memutuskan untuk menerima pinangan teman baiknya itu. Orang tua mana yang ridho anaknya ikut tertular HIV? Meskipun cinta terkadang tak ada logika, tapi tidak dengan pendamping hidup!
Adi semakin bingung!
“ Udahlah Kak, terima saja keputusan Umi dan Abah. Lagian semua itu juga kan bukan fitnah tapi kenyataan. Dede juga nggak mau Kakak menyesal nantinya. Apa untungnya coba hidup bersama pengidap positif HIV? Lagian calon Kakak juga sholeha lho..prestasinya juga banyak. De kan sudah bilang juga sejak awal. Semua juga pasti akan tahu dan menolak”
“ Nggak usah bilang kayak gitu De. Itu hanya menambah sakit hati Kakak saja. Ingat! Kakak niat nikahin Ade bukan karena kasihan atau apa? De pastinya lebih tahu itu”
“ Apa yang Kak bilang itu benar. Tapi ingat kebenaran yang hakiki hanya dibawah keputusan-Nya. Mulai sekarang Kakak sudah temukan jalan melalui perantara Umi dan Abah. Tinggal menjalani saja Kak. Adapun Ade, yah bisanya juga begitu. Lagian Ade kan sudah terbiasa di cemooh, dihina dan diejek orang. Itu sudah bagian dari hidup Ade Kak”
“ De, maafin janji Kakak yang nggak tertepati buat nikahin Ade. Kakak tahu maaf Kakak nggak sedikitpun bisa merubah kekecewaan Ade sama Kakak”
“ InsyaAllah De bisa terima semua Kak. Itulah konsekuensi! De berani terima fitrah ini meskipun nggak sampai puncak. Jadi De harus bisa terima juga kalo keputusan terbaik sebaiknya kayak gini” terdengar tangis yang menahan di seberang sana.
“ Kak tahu nggak. Sejak awal De sudah persiapkan kenyataan ini. De sadar dengan status penyakit De. Nggak ada satupun orang tua yang rela anaknya tertular HIV. Nggak ada Kak! Sebaik apapun orang tua itu! Maka dari itu De hanya patut bersyukur kalo De salah satu pengidap HIV di dunia ini yang masih bisa mencicipi hidayah-Nya. Itu saja Kak. Nggak ada yang lebih nikmat bagi seorang pengidap HIV di dunia ini selain bisa mengenal kembali Tuhannya. Justru penyakit ini yang semakin mendekatkan De sama Tuhan. Percuma kalo De bahagia bisa hidup bersama Kakak tapi, pada akhirnya Kakak ikut menderita. De yang dosa Kak...” tambah Nila kembali.Terdengar tangis yang beradu dari dua seberang yang ingin berusaha menerima ketetapan-Nya.
“ Maafkan Kakak De, maafkan...” kata terakhir Adi menutup pembicaraan.
#          #          #
5 tahun kemudian....
Nila makin menggigil, dingin itu perlahan menjalar semakin luas di sekujur tubuh. Segala antibodi seakan lemah tak berdaya akan pintarnya strategi virus HIV yang kini bersarang dalam tubuhnya. Yang semakin menampakan gejala demi gejala ke stadium III.
Nila, akhirnya dijemput melewati jalan yang tak pernah terbayang. Pucat, tampak kurus karena termakan oleh segala infeksi yang datang bergerombolan. Sistem pelindung tubuhnya telah lemah dikuasai oleh virus HIV, akibatnya mengundang beragam infeksi untuk membunuhnya. Dan informasi terakhir dia tak sadarkan diri karena infeksi pada otak.
Yah,silent killer telah beraksi. Lagi-lagi berhasil menawan manusia yang telah lebih 10 tahun bersembunyi di balik tubuh yang tampak sehat-sehat saja. Maka jangan heran beragam tes HIV/AIDS banyak dianjurkan. Karena kekhasan dari virus ini, dia bakalan muncul dengan penampakan gejala sekitar 2-10 tahun. Sehingga wajar saja kalo penderita terlihat sehat-sehat saja. Virus dengan strategi yang cerdas!
#          #          #
Seorang pria berkemeja ditemani wanita yang duduk dikursi roda dan seorang anak kecil berusia empat tahun menabur kembang di makam yang sejak 5 tahun lalu menjadi salah satu tempatnya berziarah. Kenangan masa lalu tergambar kembali, kata-kata terakhir Nila yang tak pernah dia lupakan.
“ Belajar dari kenyataan yang ada Kak, apa yang terbaik tentunya itulah yang bakalan terjadi. Belum tentu menurut Ade dan Kakak kalo harapan kita adalah yang terbaik. Namun terbaik di mata Allah itu jauh lebih baik untuk saat ini! Nggak usah pusingin perasaan De, karena itu bukan urusan Kakak. Tapi urusan Ade sama Allah. Tetap jadi yang terbaik yah?
“ Ayah ini makam siapa?” ucap gadis kecil dengan bicaranya yang tak terlalu lancar.
“ Ini makam teman Ayah dan Bunda sayang. Sekarang kita berdoa dulu ya?”

Tidak ada komentar: