Ayo Tuliskan!!

Laman

Rabu, 14 September 2011

Kecil Tapi Istimewa

Melihat tingkah lincah anak kecil, celoteh yang terkadang membuat orang dewasa tersentuh hatinya, wajah yang halus belum juga ditambah senyum yang manis. Yah, gambaran sekilas anak-anak yang menggemaskan. Namun apa gerangan terkadang status malaikat penjaganya dibumi, yang tak lain adalah orang tua terkadang tak bisa menyadari akan begitu berharganya memiliki anak. Ada yang memilih alasan kerja, ekonomi, pendidikan untuk sekedar tak merasakan bagaiman waktu membawa si anak tumbuh dan berkembang tiap harinya. Sampai-sampai ada juga orang tua yang baru sadar bahwa anaknya sudah besar. (kemana saja sih, ketika anak masih kecil?) Anak kecil dulu dan sekarang memang jauh berbeda. Diluar pengaruh zaman yang makin edan ini dengan alasan kemajuan. Dilihat dari fisik tampak anak kecil sekarang jauh dari kostum-kostumnya yang mengemaskan baik itu mode ataupun trend yang dibawa dari artis idolanya. Mode pakaian anak kecil saja sekarang ini tak jauh berbeda dengan mode pakaian remaja. Gaya anakpun terkadang mengikuti jejak para remaja. Ada apa gerangan? Kiranya faktor penyebab begitu banyak, belum juga didukung oleh beragam media yang jika diamati film untuk anak kecil membuat mereka kebanyakan untuk menutup mata. Itu berlaku untuk yang tahu batas tontonan, dan dibawah pengawasan orang tua. Nah, yang tidak. Bagaimana? Meskipun hari anak di Indonesia setiap tahunnya dirayakan. Namun, masih banyak juga yang tak berempati dengan segala macam yang berkaitan dengan pernak-pernik seorang anak. Tidak hanya orang tua ataupun orang dewasa, remaja juga. Anak tekun belajar di sekolah Anak berbinar-binar bermain play station Sekelompok lainnya, bernapas asap knalpot menjajakan koran Anak lainnya, berpeluh lumpur membantu ibunya menanam padi Anak lainnya, kelelahan menjadi buruh pabrik kecil di ujung desa Fakta ini masih ada, ketika hari anak nasional digelar tanggal 23 Juli ini Anak dipaksa harus bekerja, hanya karena ekonomi keluarga hanya karena kemiskinan Anak gemuk berpipi montok, berlarian sangat lincahnya Anak berkulit bersih dan sehat, tertawa dengan gigi putihnya Sebagian lainnya, tidak mampu berdiri hanya karena menderita gizi buruk Anak lainnya, harus meregang nyawa hanya karena tidak diimunisasi Anak lainnya, sedang menunggu ajal hanya karena tertular AIDS dari ibunya Fakta ini belum hilang, ketika hari anak nasional diperingati tanggal 23 Juli ini Anak dipaksa berpenyakit, hanya karena korban kondisi orangtua hanya karena kelalaian negara Anak bermanja selalu diasuh ibunya Anak terlelap dibelai sayang bapaknya Sebagian orangtua lain, menampar hanya karena anak menangis minta tidur Orangtua lain, memukul hanya karena anak mengompol di kasur Orangtua lain, menyubit kulit mulus hanya karena anaknya minta dibelikan mainan Gurunya yang bukan orangtua , menendang hanya karena anak terlambat sekolah Gurunya yang bukan orangtua, menghantamkan mistar ke wajah hanya karena anak tidak mengerjakan pekerjaan rumah Fakta ini bukan cerita, ketika hari anak nasional dirayakan tanggal 23 Juli 2009 Anak dipaksa menerima kekerasan, hanya karena kebiadaban manusia dewasa Hanya karena kekejian manusia dewasa Anak merayakan gemerlap peringatan hari anak di hotel berbintang Anak bergembira bernyanyi di panggung hari anak nasional Sekawanan anak lainnya, masih mengalami korban ekploatasi seksual Sekawanan lainnya, masih menjadi korban asap rokok manusia dewasa Sekawanan lainnya, masih menjadi anak jalanan Sekawanan lainnya, masih menjadi korban kekerasan Sekawanan lainnya, masih menjadi korban kelaparan Sekawanan lainnya, masih menjadi korban perdagangan anak Fakta ini bukan isu, ketika hari anak nasional diramaikan tanggal 23 Juli ini Anak masih menjadi korban, karena gegap gempita hari anak hanya sebatas slogan Hari anak, hanya sekedar seremonial hanya sebatas pidato pejabat Negara hanya sekedar himbauan para pemerhati anak hanya secuil gegap gempita sehari setelah itu anak masih saja tetap menjadi korban anak masih saja tetap diabaikan haknya Sudahkah manusia dewasa peduli dengan anak Menghentikan tangisan anak saja tak mampu bagaimana mungkin kamu bisa peduli dengan anak Ternyata masih ada tangis, ditengah kegembiraan seremonial hari anak ini Anakku selamat hari anak Meski kamu dan temanmu kadang masih harus menderita dan menangis Beragam fakta dan data hanya bisa menangis dalam kecepatan kerjanya untuk menyajikan kepada khalayak seputaran kisah anak bangsa. Kapankah tangis anak bangsa bisa berakhir? Setidaknya, seiring bertambahnya tahun data dan fakta makin bisa memberi kejelasan akan penurunan angka kekerasan, pelecehan pada anak ataupun kasus lainnya yang mengambil objek seorang anak. Bukankah tongkat estafet nantinya juga akan kembali kepada mereka yang akan melanjutkan? Terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab seputaran masalah yang tak tuntasnya seputaran anak. Padahal jika kita mau merujuk butiran pesan dari sang psikologi anak yang tak terbantahkan yaitu baginda Rasulullah SAW: “Anak-anak itu adalah hamparan surga yang indah.” “Cukuplah seorang dianggap berdosa apabila menelantarkan orang0orang yang menjadi tanggungannya.” “Seorang yang mendidik anaknya jauh lebih baik baginya daripada bersedekah satu sak tiap hari.” “Cintailah anak kecil dan sayangilah mereka. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu karena mereka itu hanya dapat melihat bahwa dari kamulah orang yang memberi rezeki kepada mereka.” Adrian Wagner juga mengakui: Anak-anak bukan sekedar makhluk yang kecil. Mereka adalah orang-orang istimewa. Tidak ada yang seperti mereka di dunia. Begitu perhatian dan kasih sayangnya Rasulullah terhadap anak sampai suatu ketika, Ummu al-Fadhl menimang bayi. Rasul kemudian mengambil bayi itu lalu mengendongnya. Tiba-tiba sang bayi buang air kecil dan membasahi pakaian Rasul SAW. Segera saja Ummu al-Fadhl merenggutnya secara kasar bayi itu dari gendongan Rasul. Rasul pun menegurnya, “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak akibat regutanmu yang kasar itu?” Hanya sekedar persoalan cara yang kasar merenggut sang bayi saja mampu mengeruhkan jiwa seorang anak, yang tak lain sama halnya dengan kaset kosong. Yang tak akan terisi kecuali orang-orang terdekatnya yang mengisi. Bagaimana dengan jiwa seorang anak yang mengalami tindak kekerasan, pelecehan dan kasus lainnya? Pasti tak saja mampu mengeruhkan jiwa tapi bisa saja sampai mengotori jiwanya yang bersih. Bagaimana nantinya? Kiranya ini tak hanya menjadi pertanyaan yang dijawab oleh para orang tua saja tapi seluruh anggota keluarga yang tak lepas 24 jam bersama seorang anak. Bukankah keluarga awal terciptanya sebuah masyarakat? Jadi, tak salah jika pesan Aa Gym menjadi berlaku untuk kita menyanyangi anak. Mulai dari yang kecil, diri sendiri, dan sekarang!

Minggu, 11 September 2011

Dibalik Masa Silam

Ketika kita merasa ragu akan bertindak bagaimana. Cobalah, untuk berdiri dititik sekarang kita berdiri. Titik keadaan dimana kita sekarang ini. Dan tengoklah ke masa silam, apa kita pernah seperti sekarang ini? Dalam posisi penuh keraguan untuk melanjutkan ataukah berhenti saja mencari jalan lain yang lebih baik, ataukah, ataukah lainnya? Ketika itu aku masih kelas 3 Aliyah. Tak sangka amanah yang datang begitu banyak yang begitu menguras pikiran. Lomba pidato bahasa Arab, Qiraatul Qutub dan menulis karya tulis islami. Ketiganya ingin mengambil fokus dan konsentrasiku. Bertepatan lombanya dalam bulan yang sama. Otomatislah waktu harus diatur sesuai porsi. Aku ragu. Yah,apa bisa menjuarai semuanya? Aku tak ingin nama pondok turun karena tak bisa menjuarai. Berapa banyak waktu yang dikeluarkan oleh para Ustad membimbingku? Jika tak terbalas, bagaimana nanti? (pikiran seperti ini rupanya untuk sekarang telah ter-format. Sebenarnya yang terpenting bukan juaranya tapi seberapa dalam aku bisa memahami makna juara itu. Menang kalah adalah hal yang biasa dalam dunia perlombaan. Yang terpenting bagaimana usahanya dulu, seberapa besar target yang ingin dicapai) Belum lagi ketika itu ada tawaran dari kepsek untuk ikut Olimpiade Matematika. Akupun mengiyakan, dengan sedikit ragu. Namun, Alhamdulillah ternyata kepsek menggantikan posisiku kepada teman lainnya. Saran kepsek sewaktu itu fokus saja dibidang yang lain selama masih ada yang bisa digantikan. Akhirnya tibalah hari H. Selama perlombaan berlangsung Alhamdulillah dan InsyaAllah, dua kata yang keluar dari lubuk hatiku. Aku meraih juara 1 lomba pidato bahasa Arab dan Qiraatul kutub se-Manado pada PORSENI. Tapi, karya tulis yang kukirimkan itu nasibnya tak menentu hingga sekarang ini kabarnya tak ada. Apa perlombaannya diganti untuk sekarang ini? Waktu singkat dengan status pemula belum cukup untuk jadi juara! Menulis tak sama dengan sulap. Sekali belajar mantra langsung jadi tulisan. Tapi proses panjang juga berlaku. Masih ikutan lomba atau tidak? Karena lombanya tak makan sehari saja. Tapi berhari-hari tanpa dispensasi jika memang punya misi. Bukan dikatakan penulis, jika bosan menulis! Bukan dikatakan penulis, jika malas nuli! Toh itulah rutinitasnya. Kupikir jika dititik saat ini soal karya tulis yang tak ada kabar itu tidak ada respon wajar saja. Karena karya yang kutulis adalah karya pertama dan sudah pasti tanda bacanya kacau balau, diksinya amburadul, alurnya kesana kemari tak ada arah. Mana mungkin masuk kategori? Ketika itu aku bertanya-tanya kenapa tak ada kejelasan jika memang tidak menang? Rupanya pertanyaan belum terjawab hingga detik ini. Kembali kepersoalan tadi masalah keraguan. Rupanya kita perlu dan penting juga melihat masa silam tentang yang pernah kita lalui dan setelah mengalami penyaringan mana yang sesuai dengan kasus kita untuk sekarang ini. Boleh jadi hanya berbeda sedikit saja tapi penanganannya tetap sama yaitu mulailah yakin dengan pilihan kita dan jalani saja. “Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk(Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri.” (QS.Al-Isra:15) Bukankah kewajiban kita hanya berusaha dan berdoa? Masalah hasil, terserah Dia mau membuat kisah kita berakhir dengan apa. Yang pasti Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Sedikitpun Tuhan tak memiliki niat jahat menggagalkan kita. Logisnya kenapa kita diciptakan, jika hanya untuk gagal? Pasti tidak! Dia memiliki rencana besar dalam kisah hidup yang sedang kita rajut. Jadi tak mungkin hanya gagal saja menjadi warna dalam hidup kita yang terkadang semraut. Adapun jika pada akhirnya kita mendefinisikan sesuatu itu dengan gagal. Namun, perlu diingat berpikir positif jauh lebih baik ketimbang negatif. “Jika kamu berbuat baik(berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (QS.Al-Isra:7) Ketika kita ragu melangkah kepada pilihan yang kita putuskan. Tengoklah kemasa silam. Bagaimana prosesnya sebuah sikon yang membuat kita ragu untuk bersikap akan tetapi pada akhirnya kita bisa. Bahkan bisa lebih dari menghilangkan keraguan. Tapi juga mencetak prestasi. Bukankah prestasi itu tak sebatas prestasi akademik? (Nabila As-Syifa_kesimpulan hari)

Sabtu, 10 September 2011

Ramadhan Bagi-Bagi Sehat

Ramadhan multi sehat, kenapa? Karena dibalik bulan ramadhan terdapat tiga kesehatan yang bakalan didapat sekaligus.

Sehat secara fisik

Secara medis puasa ramadhan yang kita jalani ternyata sesuai dengan siklus biokimia. Yang mana, jika kita ambil patokan dari selesai makan sahur sekitar jam 3-an sampai adzan magrib sekitaran jam 6-an. Maka waktu yang kita butuhkan untuk menahan diri dari tidak mengkonsumsi makanan dan minuman adalah 15 jam. Sementara itu proses yang akan terjadi selama kita berpuasa adalah proses glikolisis. Kesimpulannya dari proses ini akan menghasilkan asam laktat, asam piruvat dan energi yang akan kita gunakan untuk beraktivitas. Proses ini akan habis selama 18 jam. Jadi, puasa ramadhan sangat logis karena tidak melebihi batas waktu 18 jam.

Sehat secara psikologi

Ketika kita berpuasa dan disamping itu menjalankan ibadah-ibadah tambahan lainnya. Maka akan menghasilkan sebuah ketenangan karena di bulan ini kita termotivasi oleh keajaiban langsung dari Tuhan yaitu diberikan berkah, pahala dilipat gandakan, jaminan magfirah dari-Nya dan satu minggu terakhir ada jaminan dibebaskan dari siksa api neraka. Motivasi ini kiranya menjadi semangat baru untuk beribadah. Yang kesimpulannya ketenanganlah yang kita dapat. Dan menurut seorang dokter yang pernah meraih nobel dalam bidang kedokteran bahwa orang yang mampu mengatasi keresahannya tidak akan cepat mati.

Sehat secara sosial

Dengan adanya acara buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah tentunya kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita lainnya yang mungkin secara keseharian karena kesibukan kita tak sempat bertegur sapa. Dengan adanya ivent-ivent ramadhan tali silaturahim kita akan semakin terikat kembali dan dari sini akan lahir suatu ikatan persaudaraan yang tak pernah terputus. Dengan banyak bertemu kenalan maka makin banyak pula kesempatan kita untuk saling tukar menukar informasi, pengalaman, sharing yang dalam berbulan-bulan atau sampai bertahun-tahun tak bertemu. Jadi kebahagiaan akan terasa nikmat. Ketika kita bahagia, saraf-saraf kitapun tak menjadi tegang. Dan ini adalah awal dari seseorang sehat.

Selasa, 09 Agustus 2011

pasti bisa

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap
ALLAH selalu disisimu
InsyaALLAH...insyaALLAH...insyaALLAH..ada jalan

Lirik yang menginspirasi dikala pikiran kita diambang jalan buntu. Dikala hati kita ternyata temui pintu yang tertutup karena kunci mendadak telah hilang. Disanalah keduanya saling bertengkar, berbentur dan saling merebutkan ego. Apa yang akan aku jalani? Bagaimana cara aku menghadapi? Dunia terasa hampa! Makanan minuman yang masuk sembarang saja, masuk tanpa memberi rasa, saraf-saraf lidah seolah mati rasa. Mungkin itulah sedikit gejala yang dihadapi seseorang ketika menemui titik buntu dalam hidup.
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarah, dan jika ada kebajikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisinya pahala yang besar”(An-Nisa:40)
Ada saat dimana kita tak bisa melupakan sesuatu secara utuh. Meskipun dengan segala cara. Namun, ingat yang terpenting dari semua adalah hidup ini harus bisa kita jalani. Harus bisa bangkit ketika kita terjatuh. Harus bisa menendang ketika kita yakin itu hal yang harus kita singkirkan karena bisa menghalangi langkah kita selanjutnya. Nah, itulah logisnya. Ketika kita menendang tentu rasanya sakit. Begitulah konsekuensi.
Dalam mengambil sebuah keputusan, tentu tak akan pernah lepas yang namanya senang dan sedih. Bahagia dan kecewa. Tertawa dan menagis. Tersenyum dan sinis. Yang begitulah dunia diciptakan olehnya sebagai zona yang selalu ada pasangannya. Dunia tentu akan terasa hambar jika yang kita lihat hanya itu itu saja.
Maka dari itu Allah memberikan sebuah kenyataan. Dimana kita tinggal menerima, terserah kita mau membuatnya seperti apa. Karena dunia adalah pilihan. Sungguh, Allah maha bijaksana. Tidak bersikaop semaunya saja, maka dari itu munculah pilihan.
Dan setiap pilihan tentu berpotensi memiliki resiko. Namun, jika keputusan itu telah bulat. Pilihan kita itulah yang akan memaksa untuk bisa menerima dan menjalani apa yang ada. Karena kenapa? Ya, itulah pilihan.
Jadi, seberapa pahit, sakit, kecewa dunia harus terus berjalan. Karena sebenarnya kita masih memiliki energi itu. Meskipun akal dan hati kita terjepit tak berjalan sebagaimana fungsinya. Percayalan, energi itu masih ada. Yaitu kemauan untuk terus berjalan.
Tentunya kita masih ingat pelajaran Fisika bahwa energi itu tak bisa dimusnahkan tapi, bisa dirubah dari bentuk satu kebentuk lainnya. Dari energi listrik menjadi panas, cahaya dan sebagainya. Nah, begitulah kita. Meskipun tentunya kita bukanlah sebuah listrik. Namun apa salahnya kita berpikir bahwa sengatannya itu bisa kita ibaratkan menjadi kondisi kita yang diambang titik nol. Dan marilah kita ubah, karena kita tak bisa musnah kecuali kita menjadikan akhir skenario kita dengan cara bunuh diri. Sebagaimana yang dicontoh oleh artis-artis korea yang menjadi kiblat musisi baru di tanah air.
Itupun jika niat kita terkabul langsung mati, kalo tidak? Berapa banyak lagi penderitaan-penderitaan yang harus kita pikul? Seberapa kuat lagi nafas ini masih berhembus berkejaran antara maut dan hidup? Seberapa kuat tubuh mampu menopang untuk bisa bertahan dalam penderitaa yang tak tahu kapan bertepi di daratan yang empuk?
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku(kembali)”.
Allah saja sudah berani menjamin, mengapa kita tidak? Jadi kembali ke masalhan energi tadi. Bukan kesedihan yang harus kita musnahkan tapi dengan cara yang super kreatif kita alihkan ke berbagai aktifitas. Hindari aktifitas kosong dikala kita merasa tak ada arti dimana kita berdiri padahal sebenarnya tak begitu, semua hanya ilusi.

Gabung bersama keramaian

Meskipun kita merasa sendiri, tapi kalo lingkungannya ramai pastti tak akan terbesit untuk bunuh diri ( ujung dari pemikiran kolot), ingat kita memiliki faktor resiko! Jadi mencegah lebih baik daripada mati. Sekalipun ramai dan tak bisa membuat pikiran ikut tetaplah bertahan, karena lama-kelamaan kita bakalan lupa dengan masalah. Tak ada arti lupa untuk menyelsaikan tapi butuh ketenangan untuk mencari solusi disamping harus tetap bertahan.
Tapi, ramainya yang bagaimana dulu? Bukan diskotik atau dugem pastinya. Allah saja sudah kasih solusi, yah tinggal kitanya saja mau milih itu or ini.
“Aku berada dalam prasangka hamba-Ku. Aku akan selalu bersamanya selama ia mengingat-Ku. Apalagi ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam kelompok, aku pun akan mengingatnya pada satu kelompok yang lebih baik darinya. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, aku akan mendekatinya sehasta, jika ia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari. (HR.Bukhori dan Muslim)
Rasanya lega ketika membaca hadis Qudsi ini. Mengapa? Disamping kita punya resiko bunuh diri kita juga punya potensi untuk mendekat sedekat-dekatnya dengan-Nya karena kita merasa butuh dikala orang lain tak lagi kita butuh. Nah tunggu apalagi? Terserah kita ingin mendekatnya sendiri or jamaah. Makanya keramaian itu perlu untuk antisipasi dan tak tahunya disitu tersimpan beragam solusi.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang”.(Ar-Rad:28)
Yah, ketenangan awal dari mendapatkan solusi. Logis kan? Karena kita tentu saja kalo dalam kondisi emosional bawaannya marah dan solusi tentu akan membuat jarak.

Lampiaskan dengan menulis

Masa sih? Buktiin saja kalo nggak percaya. Apalagi kalo yang hoby nulis, waktu kecewa harus bisa dimanfaatin secara tepat untuk melampiaskan kecewa, kesal dan bahasa lainnya. Ketika kita menulis dengan emosi. Wah, dahsyat! Klimaksnya mungkin terasa sekali karena jiwa kita ikut mengalir dibalik jari tangan. Entah, kekuatan dari mana itu yang akan memberikan kekuatan jari kita melukis indahnya kekecewaan, dahsyatnya emosi yang meledak, panasnya marah yang tak terlampiaskan.
Ingat. Jangan pernah baca kembali tulisannya sebelum unek-unek kita berhasil kita pindah dalam kertas ataupun diary. Dan kita baca kembali mungkin ada solusi dibalik tulisan kita karena setelah klimaks kita dapat perlahan ada solusi yang kita tak sadari mengalir dibawah pena ataupunjari kita ketika menulis. Saya pernah mencobanya. Dan, alhamdulilah berhasil! Malah langsung jadi cerpen.

Membaca sampai muak hilang

Membaca ketika diujung masalah malah lebih hebat lagi. Tapi bukan bacaan yang berat berat macam buku pelajaran, makalah, ataupun diktat. Ringan-ringan saja untuk menyesuaiakn emosi yang lagi meledak sana sini. Buku pencerahan, cerpen dan yang paling ampuh lagi kitab suci, terkadang jawaban dari masalh atau minimalnya hiburan yang bakalan kita dapat. Karena dengan membaca kita akan mengalihkan emosi dan fokus meskipun bayang-bayang 2K itu makin muncul. Tapi ini juga sebagai awalnya untuk mencari tenang untuk pelampiasan.

Minggu, 31 Juli 2011

Ujian Makin Asyik

Apa kita pernah diuji secara mendadak? Ataukah kita mendadak merasa bahwa itu sebuah ujian? Apa benar itu ujian? Atau balasan, peringatan, teguran?
Pagi itu tepat pukul 08.35 ponselku berdering. Padahal sewaktu itu aku sedang membantu Ibu di dapur. Ujian sedikitpun tak terpikirkan.
“Yan, dimana?” suara temanku, Nia dari seberang.
“Di rumah. Kenapa?” balasku ringan.
“Sekarang ujian praktek kesehatan reproduksi, jam 9 di tempat prakteknya dokter, jalan Malalugis” jelasnya singkat, padat dan jelas.
“Apa? Jangan becanda deh?” balasku heran.
“Dibilangin nggak percaya. Cepat deh! Teman-teman udah banyak ini yang dah datang. Aku tunggu lho”
“Ok. Bilangin sama Dokter kalo aku belum datang ujiannya jangan dulu dimulai” candaku sambil melirik ternyata seragam belum di setrika.
“Cepat deh” balasnya lagi.
“Ok dunk.
# # #
Yah, begitulah sifat ujian. Tapi, terkadang kita sulit mendefinisikannya atau membedakan antara ujian, peringatan, balasan, teguran atau apalah. Sehingga untuk menyikapinya jadi tak sesuai karena bingung. Ketika kita diberikan ujian kita sering menggangapnya sebagai balasan Tuhan yang kita pikir tak pantas untuk kita menerimanya. Sehingga hasil akhirnya bukannya kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” yang kita ucap sebagaimana seharusnya sikap seorang muslim. Malah, kita mengumpat Tuhan. Kenapa aku yang harus terima ini bukan orang lain? Apa maunya Tuhan untukku? Apa aku kurang bersyukur sehingga harus begini?
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri” (Yunus:44)
Kata-kata yang kurang jelas maknanya bisa muncul, tentunya bukan berasal dari pikiran yang ditumbuhi keimanan melainkan dari pikiran yang telah dicuci dengan prinsip yang keruh. Karena kata-kata yang baik adalah proses. Proses dari analisa antara dosa ataukah ujian yang nyata untuk kita.
Maka dari itulah berpikir sebelum menafsirkan itu perlu, agar kita tidak salah paham dengan ketentuan Allah. Kombinasikan antara akal dan hati. Pikiran mulai bekerja untuk mengingat rekaman sikap dan kata yang terucap, sedangkan hati mulai diaktifkan sinyal-sinyal dosa. Jika yang kita rasa”sesuatu” itu tak ingin diketahui orang lain. Nah, itulah salah satu gejala dosa.
Sungguh, Allah begitu bijaksana. Memberikan ujian dan jawaban yang benar, yang bisa kita jadikan revisi terhadap pelajaran yang kita peroleh membentuk sebuah mutiara pemahaman. Pelajari kembali agar tingkatan iman kita bisa naik dengan nilai yang memuaskan. Sehingga ujian bukan lagi menjadi penghalang hati kita untuk menikmati indahnya kebahagiaan. Malah, ujian bisa kita jadikan sebagai teman. Yang akan setia menjadi cermin sejati kita sebelum dijemput kematian.
“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”(Yunus:36)
Ketika kita dekat dengan pemilik ujian dan jawaban, maka tak lain jawabannya akan semakin cepat kita dapatkan tanpa melalui dugaan, tafsiran yang membinggungkan atau umpatan-umpatan yang secara refleks kita ucapkan.
Kedekatan kita dengan sesama manusia dan Tuhan tentu berbeda. Penyebabnya karena Tuhan pasti memafkan sekalipun lumpur dosa telah kita jadikan tempat penginapan. Namun, berbeda dengan manusia yang tingkat memafkannya bervariasi ada yang secepat kilat, ada yang tunggu dipikir dulu bahkan ada yang menunggu lebaran saja karena waktunya bulan memafkan digencarkan.
Enzim yang mampu mempercepat kedekatan kita dengan Tuhan hanya satu saja yaitu ibadah. Baik itu ibadah mahdah maupun yang gairu mahdah. Dan tentunya kita sudah banyak mendengar bagaimana kajian ilmiah itu mensuport secara memukau.
Berikut berbagai penelitian tentang manfaat ibadah secara umum yang mungkin bisa memotivasi kita untuk bisa lebih dekat dengan-Nya.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan kawan-kawan(1989) terhadap pasien yang memiliki masalah tekanan darah tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalaminya. Diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kontrol lebih baik dan ditemukan bahwa kegiatan agama seperti doa dan dzikir dapat mencegah seseorang dari hipertensi.
Penelitian yang dilakukan Levin dan Vanderpool(1989) terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah menemukan bahwa kegiatan keagamaan akan memperkecil kemungkinan seseorang menderita penyakit jantung dan pembuluh darah.
Nah, tunggu apalagi? Ternyata kehadiran ujian tak sekedar berbuah pelajaran yang manis tapi juga berbuah kesehatan yang menyegarkan disaat panasnya ujian yang datang membara, yang mana kita membutuhkan sebuah minuman yang selain manis juga menyegarkan.
Ketika kita diuji, diri kita membutuhkan tempat bergantung agar kita tak terjatuh dan diuji kembali hanya karena ulah kita. Maka meningkatkan kedekatan kita dengan-Nya melalui beragam fiture ibadah adalah solusi.
Selamat mencoba!