Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap
ALLAH selalu disisimu
InsyaALLAH...insyaALLAH...insyaALLAH..ada jalan
Lirik yang menginspirasi dikala pikiran kita diambang jalan buntu. Dikala hati kita ternyata temui pintu yang tertutup karena kunci mendadak telah hilang. Disanalah keduanya saling bertengkar, berbentur dan saling merebutkan ego. Apa yang akan aku jalani? Bagaimana cara aku menghadapi? Dunia terasa hampa! Makanan minuman yang masuk sembarang saja, masuk tanpa memberi rasa, saraf-saraf lidah seolah mati rasa. Mungkin itulah sedikit gejala yang dihadapi seseorang ketika menemui titik buntu dalam hidup.
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarah, dan jika ada kebajikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisinya pahala yang besar”(An-Nisa:40)
Ada saat dimana kita tak bisa melupakan sesuatu secara utuh. Meskipun dengan segala cara. Namun, ingat yang terpenting dari semua adalah hidup ini harus bisa kita jalani. Harus bisa bangkit ketika kita terjatuh. Harus bisa menendang ketika kita yakin itu hal yang harus kita singkirkan karena bisa menghalangi langkah kita selanjutnya. Nah, itulah logisnya. Ketika kita menendang tentu rasanya sakit. Begitulah konsekuensi.
Dalam mengambil sebuah keputusan, tentu tak akan pernah lepas yang namanya senang dan sedih. Bahagia dan kecewa. Tertawa dan menagis. Tersenyum dan sinis. Yang begitulah dunia diciptakan olehnya sebagai zona yang selalu ada pasangannya. Dunia tentu akan terasa hambar jika yang kita lihat hanya itu itu saja.
Maka dari itu Allah memberikan sebuah kenyataan. Dimana kita tinggal menerima, terserah kita mau membuatnya seperti apa. Karena dunia adalah pilihan. Sungguh, Allah maha bijaksana. Tidak bersikaop semaunya saja, maka dari itu munculah pilihan.
Dan setiap pilihan tentu berpotensi memiliki resiko. Namun, jika keputusan itu telah bulat. Pilihan kita itulah yang akan memaksa untuk bisa menerima dan menjalani apa yang ada. Karena kenapa? Ya, itulah pilihan.
Jadi, seberapa pahit, sakit, kecewa dunia harus terus berjalan. Karena sebenarnya kita masih memiliki energi itu. Meskipun akal dan hati kita terjepit tak berjalan sebagaimana fungsinya. Percayalan, energi itu masih ada. Yaitu kemauan untuk terus berjalan.
Tentunya kita masih ingat pelajaran Fisika bahwa energi itu tak bisa dimusnahkan tapi, bisa dirubah dari bentuk satu kebentuk lainnya. Dari energi listrik menjadi panas, cahaya dan sebagainya. Nah, begitulah kita. Meskipun tentunya kita bukanlah sebuah listrik. Namun apa salahnya kita berpikir bahwa sengatannya itu bisa kita ibaratkan menjadi kondisi kita yang diambang titik nol. Dan marilah kita ubah, karena kita tak bisa musnah kecuali kita menjadikan akhir skenario kita dengan cara bunuh diri. Sebagaimana yang dicontoh oleh artis-artis korea yang menjadi kiblat musisi baru di tanah air.
Itupun jika niat kita terkabul langsung mati, kalo tidak? Berapa banyak lagi penderitaan-penderitaan yang harus kita pikul? Seberapa kuat lagi nafas ini masih berhembus berkejaran antara maut dan hidup? Seberapa kuat tubuh mampu menopang untuk bisa bertahan dalam penderitaa yang tak tahu kapan bertepi di daratan yang empuk?
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku(kembali)”.
Allah saja sudah berani menjamin, mengapa kita tidak? Jadi kembali ke masalhan energi tadi. Bukan kesedihan yang harus kita musnahkan tapi dengan cara yang super kreatif kita alihkan ke berbagai aktifitas. Hindari aktifitas kosong dikala kita merasa tak ada arti dimana kita berdiri padahal sebenarnya tak begitu, semua hanya ilusi.
Gabung bersama keramaian
Meskipun kita merasa sendiri, tapi kalo lingkungannya ramai pastti tak akan terbesit untuk bunuh diri ( ujung dari pemikiran kolot), ingat kita memiliki faktor resiko! Jadi mencegah lebih baik daripada mati. Sekalipun ramai dan tak bisa membuat pikiran ikut tetaplah bertahan, karena lama-kelamaan kita bakalan lupa dengan masalah. Tak ada arti lupa untuk menyelsaikan tapi butuh ketenangan untuk mencari solusi disamping harus tetap bertahan.
Tapi, ramainya yang bagaimana dulu? Bukan diskotik atau dugem pastinya. Allah saja sudah kasih solusi, yah tinggal kitanya saja mau milih itu or ini.
“Aku berada dalam prasangka hamba-Ku. Aku akan selalu bersamanya selama ia mengingat-Ku. Apalagi ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam kelompok, aku pun akan mengingatnya pada satu kelompok yang lebih baik darinya. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, aku akan mendekatinya sehasta, jika ia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari. (HR.Bukhori dan Muslim)
Rasanya lega ketika membaca hadis Qudsi ini. Mengapa? Disamping kita punya resiko bunuh diri kita juga punya potensi untuk mendekat sedekat-dekatnya dengan-Nya karena kita merasa butuh dikala orang lain tak lagi kita butuh. Nah tunggu apalagi? Terserah kita ingin mendekatnya sendiri or jamaah. Makanya keramaian itu perlu untuk antisipasi dan tak tahunya disitu tersimpan beragam solusi.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang”.(Ar-Rad:28)
Yah, ketenangan awal dari mendapatkan solusi. Logis kan? Karena kita tentu saja kalo dalam kondisi emosional bawaannya marah dan solusi tentu akan membuat jarak.
Lampiaskan dengan menulis
Masa sih? Buktiin saja kalo nggak percaya. Apalagi kalo yang hoby nulis, waktu kecewa harus bisa dimanfaatin secara tepat untuk melampiaskan kecewa, kesal dan bahasa lainnya. Ketika kita menulis dengan emosi. Wah, dahsyat! Klimaksnya mungkin terasa sekali karena jiwa kita ikut mengalir dibalik jari tangan. Entah, kekuatan dari mana itu yang akan memberikan kekuatan jari kita melukis indahnya kekecewaan, dahsyatnya emosi yang meledak, panasnya marah yang tak terlampiaskan.
Ingat. Jangan pernah baca kembali tulisannya sebelum unek-unek kita berhasil kita pindah dalam kertas ataupun diary. Dan kita baca kembali mungkin ada solusi dibalik tulisan kita karena setelah klimaks kita dapat perlahan ada solusi yang kita tak sadari mengalir dibawah pena ataupunjari kita ketika menulis. Saya pernah mencobanya. Dan, alhamdulilah berhasil! Malah langsung jadi cerpen.
Membaca sampai muak hilang
Membaca ketika diujung masalah malah lebih hebat lagi. Tapi bukan bacaan yang berat berat macam buku pelajaran, makalah, ataupun diktat. Ringan-ringan saja untuk menyesuaiakn emosi yang lagi meledak sana sini. Buku pencerahan, cerpen dan yang paling ampuh lagi kitab suci, terkadang jawaban dari masalh atau minimalnya hiburan yang bakalan kita dapat. Karena dengan membaca kita akan mengalihkan emosi dan fokus meskipun bayang-bayang 2K itu makin muncul. Tapi ini juga sebagai awalnya untuk mencari tenang untuk pelampiasan.
Semangat, harta yang paling berharga ketika malas merayu dan menggoda. Namun, Sadar!jauh lebih berharga dari segalanya karena detik itu sangat berharga!
Laman
Selasa, 09 Agustus 2011
Minggu, 31 Juli 2011
Ujian Makin Asyik
Apa kita pernah diuji secara mendadak? Ataukah kita mendadak merasa bahwa itu sebuah ujian? Apa benar itu ujian? Atau balasan, peringatan, teguran?
Pagi itu tepat pukul 08.35 ponselku berdering. Padahal sewaktu itu aku sedang membantu Ibu di dapur. Ujian sedikitpun tak terpikirkan.
“Yan, dimana?” suara temanku, Nia dari seberang.
“Di rumah. Kenapa?” balasku ringan.
“Sekarang ujian praktek kesehatan reproduksi, jam 9 di tempat prakteknya dokter, jalan Malalugis” jelasnya singkat, padat dan jelas.
“Apa? Jangan becanda deh?” balasku heran.
“Dibilangin nggak percaya. Cepat deh! Teman-teman udah banyak ini yang dah datang. Aku tunggu lho”
“Ok. Bilangin sama Dokter kalo aku belum datang ujiannya jangan dulu dimulai” candaku sambil melirik ternyata seragam belum di setrika.
“Cepat deh” balasnya lagi.
“Ok dunk.
# # #
Yah, begitulah sifat ujian. Tapi, terkadang kita sulit mendefinisikannya atau membedakan antara ujian, peringatan, balasan, teguran atau apalah. Sehingga untuk menyikapinya jadi tak sesuai karena bingung. Ketika kita diberikan ujian kita sering menggangapnya sebagai balasan Tuhan yang kita pikir tak pantas untuk kita menerimanya. Sehingga hasil akhirnya bukannya kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” yang kita ucap sebagaimana seharusnya sikap seorang muslim. Malah, kita mengumpat Tuhan. Kenapa aku yang harus terima ini bukan orang lain? Apa maunya Tuhan untukku? Apa aku kurang bersyukur sehingga harus begini?
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri” (Yunus:44)
Kata-kata yang kurang jelas maknanya bisa muncul, tentunya bukan berasal dari pikiran yang ditumbuhi keimanan melainkan dari pikiran yang telah dicuci dengan prinsip yang keruh. Karena kata-kata yang baik adalah proses. Proses dari analisa antara dosa ataukah ujian yang nyata untuk kita.
Maka dari itulah berpikir sebelum menafsirkan itu perlu, agar kita tidak salah paham dengan ketentuan Allah. Kombinasikan antara akal dan hati. Pikiran mulai bekerja untuk mengingat rekaman sikap dan kata yang terucap, sedangkan hati mulai diaktifkan sinyal-sinyal dosa. Jika yang kita rasa”sesuatu” itu tak ingin diketahui orang lain. Nah, itulah salah satu gejala dosa.
Sungguh, Allah begitu bijaksana. Memberikan ujian dan jawaban yang benar, yang bisa kita jadikan revisi terhadap pelajaran yang kita peroleh membentuk sebuah mutiara pemahaman. Pelajari kembali agar tingkatan iman kita bisa naik dengan nilai yang memuaskan. Sehingga ujian bukan lagi menjadi penghalang hati kita untuk menikmati indahnya kebahagiaan. Malah, ujian bisa kita jadikan sebagai teman. Yang akan setia menjadi cermin sejati kita sebelum dijemput kematian.
“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”(Yunus:36)
Ketika kita dekat dengan pemilik ujian dan jawaban, maka tak lain jawabannya akan semakin cepat kita dapatkan tanpa melalui dugaan, tafsiran yang membinggungkan atau umpatan-umpatan yang secara refleks kita ucapkan.
Kedekatan kita dengan sesama manusia dan Tuhan tentu berbeda. Penyebabnya karena Tuhan pasti memafkan sekalipun lumpur dosa telah kita jadikan tempat penginapan. Namun, berbeda dengan manusia yang tingkat memafkannya bervariasi ada yang secepat kilat, ada yang tunggu dipikir dulu bahkan ada yang menunggu lebaran saja karena waktunya bulan memafkan digencarkan.
Enzim yang mampu mempercepat kedekatan kita dengan Tuhan hanya satu saja yaitu ibadah. Baik itu ibadah mahdah maupun yang gairu mahdah. Dan tentunya kita sudah banyak mendengar bagaimana kajian ilmiah itu mensuport secara memukau.
Berikut berbagai penelitian tentang manfaat ibadah secara umum yang mungkin bisa memotivasi kita untuk bisa lebih dekat dengan-Nya.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan kawan-kawan(1989) terhadap pasien yang memiliki masalah tekanan darah tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalaminya. Diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kontrol lebih baik dan ditemukan bahwa kegiatan agama seperti doa dan dzikir dapat mencegah seseorang dari hipertensi.
Penelitian yang dilakukan Levin dan Vanderpool(1989) terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah menemukan bahwa kegiatan keagamaan akan memperkecil kemungkinan seseorang menderita penyakit jantung dan pembuluh darah.
Nah, tunggu apalagi? Ternyata kehadiran ujian tak sekedar berbuah pelajaran yang manis tapi juga berbuah kesehatan yang menyegarkan disaat panasnya ujian yang datang membara, yang mana kita membutuhkan sebuah minuman yang selain manis juga menyegarkan.
Ketika kita diuji, diri kita membutuhkan tempat bergantung agar kita tak terjatuh dan diuji kembali hanya karena ulah kita. Maka meningkatkan kedekatan kita dengan-Nya melalui beragam fiture ibadah adalah solusi.
Selamat mencoba!
Pagi itu tepat pukul 08.35 ponselku berdering. Padahal sewaktu itu aku sedang membantu Ibu di dapur. Ujian sedikitpun tak terpikirkan.
“Yan, dimana?” suara temanku, Nia dari seberang.
“Di rumah. Kenapa?” balasku ringan.
“Sekarang ujian praktek kesehatan reproduksi, jam 9 di tempat prakteknya dokter, jalan Malalugis” jelasnya singkat, padat dan jelas.
“Apa? Jangan becanda deh?” balasku heran.
“Dibilangin nggak percaya. Cepat deh! Teman-teman udah banyak ini yang dah datang. Aku tunggu lho”
“Ok. Bilangin sama Dokter kalo aku belum datang ujiannya jangan dulu dimulai” candaku sambil melirik ternyata seragam belum di setrika.
“Cepat deh” balasnya lagi.
“Ok dunk.
# # #
Yah, begitulah sifat ujian. Tapi, terkadang kita sulit mendefinisikannya atau membedakan antara ujian, peringatan, balasan, teguran atau apalah. Sehingga untuk menyikapinya jadi tak sesuai karena bingung. Ketika kita diberikan ujian kita sering menggangapnya sebagai balasan Tuhan yang kita pikir tak pantas untuk kita menerimanya. Sehingga hasil akhirnya bukannya kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” yang kita ucap sebagaimana seharusnya sikap seorang muslim. Malah, kita mengumpat Tuhan. Kenapa aku yang harus terima ini bukan orang lain? Apa maunya Tuhan untukku? Apa aku kurang bersyukur sehingga harus begini?
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri” (Yunus:44)
Kata-kata yang kurang jelas maknanya bisa muncul, tentunya bukan berasal dari pikiran yang ditumbuhi keimanan melainkan dari pikiran yang telah dicuci dengan prinsip yang keruh. Karena kata-kata yang baik adalah proses. Proses dari analisa antara dosa ataukah ujian yang nyata untuk kita.
Maka dari itulah berpikir sebelum menafsirkan itu perlu, agar kita tidak salah paham dengan ketentuan Allah. Kombinasikan antara akal dan hati. Pikiran mulai bekerja untuk mengingat rekaman sikap dan kata yang terucap, sedangkan hati mulai diaktifkan sinyal-sinyal dosa. Jika yang kita rasa”sesuatu” itu tak ingin diketahui orang lain. Nah, itulah salah satu gejala dosa.
Sungguh, Allah begitu bijaksana. Memberikan ujian dan jawaban yang benar, yang bisa kita jadikan revisi terhadap pelajaran yang kita peroleh membentuk sebuah mutiara pemahaman. Pelajari kembali agar tingkatan iman kita bisa naik dengan nilai yang memuaskan. Sehingga ujian bukan lagi menjadi penghalang hati kita untuk menikmati indahnya kebahagiaan. Malah, ujian bisa kita jadikan sebagai teman. Yang akan setia menjadi cermin sejati kita sebelum dijemput kematian.
“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”(Yunus:36)
Ketika kita dekat dengan pemilik ujian dan jawaban, maka tak lain jawabannya akan semakin cepat kita dapatkan tanpa melalui dugaan, tafsiran yang membinggungkan atau umpatan-umpatan yang secara refleks kita ucapkan.
Kedekatan kita dengan sesama manusia dan Tuhan tentu berbeda. Penyebabnya karena Tuhan pasti memafkan sekalipun lumpur dosa telah kita jadikan tempat penginapan. Namun, berbeda dengan manusia yang tingkat memafkannya bervariasi ada yang secepat kilat, ada yang tunggu dipikir dulu bahkan ada yang menunggu lebaran saja karena waktunya bulan memafkan digencarkan.
Enzim yang mampu mempercepat kedekatan kita dengan Tuhan hanya satu saja yaitu ibadah. Baik itu ibadah mahdah maupun yang gairu mahdah. Dan tentunya kita sudah banyak mendengar bagaimana kajian ilmiah itu mensuport secara memukau.
Berikut berbagai penelitian tentang manfaat ibadah secara umum yang mungkin bisa memotivasi kita untuk bisa lebih dekat dengan-Nya.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan kawan-kawan(1989) terhadap pasien yang memiliki masalah tekanan darah tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalaminya. Diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kontrol lebih baik dan ditemukan bahwa kegiatan agama seperti doa dan dzikir dapat mencegah seseorang dari hipertensi.
Penelitian yang dilakukan Levin dan Vanderpool(1989) terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah menemukan bahwa kegiatan keagamaan akan memperkecil kemungkinan seseorang menderita penyakit jantung dan pembuluh darah.
Nah, tunggu apalagi? Ternyata kehadiran ujian tak sekedar berbuah pelajaran yang manis tapi juga berbuah kesehatan yang menyegarkan disaat panasnya ujian yang datang membara, yang mana kita membutuhkan sebuah minuman yang selain manis juga menyegarkan.
Ketika kita diuji, diri kita membutuhkan tempat bergantung agar kita tak terjatuh dan diuji kembali hanya karena ulah kita. Maka meningkatkan kedekatan kita dengan-Nya melalui beragam fiture ibadah adalah solusi.
Selamat mencoba!
Senin, 11 Juli 2011
apa kata jari sayang?
Mendekati penghujung malam, dari sebelah rumah terdengar syair lagu yang bagiku tak asing lagi. Tak asing karena lagu itu pernah aku ajari kepada malaikat-malaikat kecil, lucu serta menggemaskan. Kumerindukkannya( ^_^)
Yang ini jari apa namanya?( ucap Ibu tersebut sambil menunjukan jempol)
Jempol( ucap anaknya yang baru saja memasuki Raudatul Atfal) diulangi sebanyak 2 X
Apa kata jari jempol sayang ?
Kalo belajar jangan ngobrol...
Yang ini jari apa namanya?
Telunjuk
Apa... kata jari telunjuk sayang?
Kalo belajar jangan ngantuk
Yang ini jari apa namanya?
Tengah
Apa....kata jari tengah sayang?
Kalo belajar jangan lengah
Yang ini jari apa namanya?
Manis
Apa.... kata jari manis sayang?
Kalo belajar jangan menangis
Yang ini jari apa namanya?
Kelingking
Apa...kata jari kelingking sayang?
Kalo belajar jangan keliling....
Syair lagu yang indah jika porsinya untuk anak TK. Namun lebih indah lagi cara mendidik Ibu tersebut, dengan semangatnya dia mengulangi kembali pelajaran anaknya yang didapat setelah beberapa jam dihabiskan disekolah .
Di era yang makin menjamin kemudahan dengan beragam kemajuan teknologi yang super canggih sekarang ini. Masih ada juga orang tua yang masih memanfaatkan kemajuan tapi melupakan satu hal. Yaitu memberikan waktunya yang terbanyak untuk buah hati.
Masih ada orang tua yang melewatkan masa-masa indah anaknya dengan lebih menyibukan diri dengan tumpukan pekerjaan. Ketimbang memberi perhatian lebih untuk anak. Sehingga sebagiannya tersadar ketika anak-anaknya telah tumbuh menjadi sosok yang dewasa yang penuh dengan beragam masalah-massalah anak remaja.
Masih ada juga orang tua yang menawarkan uang untuk menggantikan sebuah perhatian, padahal nilai sebuah perhatian jika ditimbang tentunya tak memiliki nilai setara apapun.
Uang, ya uang! Perhatian, yah perhatian!
Tak memiliki makna yang sama dari keduanya. Jika tidak percaya cek langsung di kamus..
Meskipun belum merasakan nikmatnya seorang Ibu, tapi mencicipi dalam area mendidik sedikitnya sudah bisa dirasakan bagaimana peran seorang Ibu dalam mendidik anak-anaknya. Kebiasaan-kebiasaan orang tua akan di fotocoy langsung oleh seorang anak karena mereka adalah pengikut yang paling setia. Peniru ulung.
Jadi jangan heran, jika bocah seusia anak TK telah lancar mengatakan seisi kebun binatang dan kata-kata amis lainnya. Jika bukan datang dari lingkungan keluarga, teman juga bisa datang dari lingkungannya sekitar. Jadi orang tua sekarang semakin ekstra penjagaan karena beragam tayangan informasi saat ini tak ada lagi kata-kata untuk dibawah 17 tahun. Meskipun ada secara tertulis tapi dilihat faktanya nihil. Kata-kata seolah tak ada arti! Semua juga bisa nonton karena dipercepat dengan adanya internet.
Sungguh memprihatinkan dunia hiburan anak-anak sekarang, dunia hiburan seolah sedikit yang memperhatikan kondisi psikologis anak! Lihat saja perbedaan lagu anak-anak dulu dengan anak-anak sekarang?
Jika dulu masih ada Joshua, Cikita Medi, Meisy, Dea Ananda dengan nyayiannya yang berbobot karena mudah dicerna oleh anak-anak dan memiliki pengaruh yang kuat untuk mencintai tanah air, berkenalan dengan dunia hewan(joshua), tumbuh-tumbuhan(Meisy), tidak boleh cubit-cubitan(Meisy) makna idul fitri(Dea). Tapi sekarang siapa saja???
Adapun iya, tapi lagu-lagunya menjuru pada CINTA itupun tepatnya untuk kalangan remaja dan dewasa!! Bukan untuk anak-anak.
Anak kecil, bukankah baiknya diperkenalkan dengan sesuatu kebiasaan-kebiasaan yang baik? CINTA ada waktunya. Seperti pesan Om mario Teguh kepada seluruh penjuru orang tua Indonesia “ Tanamkan dulu logika sebelum anak berkenalan dengan yang namanya CINTA” meskipun namanya CINTA pasti buat orang gila karena nggak pake logika.
Nasehat yang menurutku sistematis sekali sesuai dengan tumbuh kembang setiap anak. Lagian logika yang dipadukan dengan kedewasaan dalam menyikapi CINTA bukanlah suatu hal yang instan. Butuh proses dan waktu. Oleh karenanya sesuatu itu harus adil. Tempatkan sesuatu pada tempatnya, tempatkan posisi anak sesuai dengan usia dan perkembangannya.
Ibu-ibu yang baik adalah mereka yang menyadari bahwa bentuk-bentuk tontonan seperti itu bukan semata sebagai hiburan, tetapi sudah menjelma sebagai musuh. Mereka secara pelan menggerogoti fikiran dan hati putra putri agar menjadi liar dan hidup diluar kendali agama.
Ibu-ibu yang bijak adalah mereka yang menyadari bahwa keberadaan sarana teknologi tidak lagi sebatas sarana pembuka cakrawala dan komunikasi, namun sudah menjelma menjadi trainer massal yang menuntun anak-anak menjadi hidup seperti binatang.(Ummu Aisyah)
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (At-Tahrim:6)
So, berbahagialah menjadi seorang Ibu karena beragam hadiah datang dari-Nya langsung tanpa potongan selama tugas-Nya masih setia dirawat setiap detik helaan nafas. Sejenak, berbahagialah dengan SMS yang diwasiatkan oleh Rasulullah:
“Siapa yang diuji(oleh Allah SWT) dengan suatu kesulitan yang ditimbulkan oleh keberadaan anak-anaknya itu menjadi perisai baginya dari api neraka.” (Riwayat Bukhari)
Yang ini jari apa namanya?( ucap Ibu tersebut sambil menunjukan jempol)
Jempol( ucap anaknya yang baru saja memasuki Raudatul Atfal) diulangi sebanyak 2 X
Apa kata jari jempol sayang ?
Kalo belajar jangan ngobrol...
Yang ini jari apa namanya?
Telunjuk
Apa... kata jari telunjuk sayang?
Kalo belajar jangan ngantuk
Yang ini jari apa namanya?
Tengah
Apa....kata jari tengah sayang?
Kalo belajar jangan lengah
Yang ini jari apa namanya?
Manis
Apa.... kata jari manis sayang?
Kalo belajar jangan menangis
Yang ini jari apa namanya?
Kelingking
Apa...kata jari kelingking sayang?
Kalo belajar jangan keliling....
Syair lagu yang indah jika porsinya untuk anak TK. Namun lebih indah lagi cara mendidik Ibu tersebut, dengan semangatnya dia mengulangi kembali pelajaran anaknya yang didapat setelah beberapa jam dihabiskan disekolah .
Di era yang makin menjamin kemudahan dengan beragam kemajuan teknologi yang super canggih sekarang ini. Masih ada juga orang tua yang masih memanfaatkan kemajuan tapi melupakan satu hal. Yaitu memberikan waktunya yang terbanyak untuk buah hati.
Masih ada orang tua yang melewatkan masa-masa indah anaknya dengan lebih menyibukan diri dengan tumpukan pekerjaan. Ketimbang memberi perhatian lebih untuk anak. Sehingga sebagiannya tersadar ketika anak-anaknya telah tumbuh menjadi sosok yang dewasa yang penuh dengan beragam masalah-massalah anak remaja.
Masih ada juga orang tua yang menawarkan uang untuk menggantikan sebuah perhatian, padahal nilai sebuah perhatian jika ditimbang tentunya tak memiliki nilai setara apapun.
Uang, ya uang! Perhatian, yah perhatian!
Tak memiliki makna yang sama dari keduanya. Jika tidak percaya cek langsung di kamus..
Meskipun belum merasakan nikmatnya seorang Ibu, tapi mencicipi dalam area mendidik sedikitnya sudah bisa dirasakan bagaimana peran seorang Ibu dalam mendidik anak-anaknya. Kebiasaan-kebiasaan orang tua akan di fotocoy langsung oleh seorang anak karena mereka adalah pengikut yang paling setia. Peniru ulung.
Jadi jangan heran, jika bocah seusia anak TK telah lancar mengatakan seisi kebun binatang dan kata-kata amis lainnya. Jika bukan datang dari lingkungan keluarga, teman juga bisa datang dari lingkungannya sekitar. Jadi orang tua sekarang semakin ekstra penjagaan karena beragam tayangan informasi saat ini tak ada lagi kata-kata untuk dibawah 17 tahun. Meskipun ada secara tertulis tapi dilihat faktanya nihil. Kata-kata seolah tak ada arti! Semua juga bisa nonton karena dipercepat dengan adanya internet.
Sungguh memprihatinkan dunia hiburan anak-anak sekarang, dunia hiburan seolah sedikit yang memperhatikan kondisi psikologis anak! Lihat saja perbedaan lagu anak-anak dulu dengan anak-anak sekarang?
Jika dulu masih ada Joshua, Cikita Medi, Meisy, Dea Ananda dengan nyayiannya yang berbobot karena mudah dicerna oleh anak-anak dan memiliki pengaruh yang kuat untuk mencintai tanah air, berkenalan dengan dunia hewan(joshua), tumbuh-tumbuhan(Meisy), tidak boleh cubit-cubitan(Meisy) makna idul fitri(Dea). Tapi sekarang siapa saja???
Adapun iya, tapi lagu-lagunya menjuru pada CINTA itupun tepatnya untuk kalangan remaja dan dewasa!! Bukan untuk anak-anak.
Anak kecil, bukankah baiknya diperkenalkan dengan sesuatu kebiasaan-kebiasaan yang baik? CINTA ada waktunya. Seperti pesan Om mario Teguh kepada seluruh penjuru orang tua Indonesia “ Tanamkan dulu logika sebelum anak berkenalan dengan yang namanya CINTA” meskipun namanya CINTA pasti buat orang gila karena nggak pake logika.
Nasehat yang menurutku sistematis sekali sesuai dengan tumbuh kembang setiap anak. Lagian logika yang dipadukan dengan kedewasaan dalam menyikapi CINTA bukanlah suatu hal yang instan. Butuh proses dan waktu. Oleh karenanya sesuatu itu harus adil. Tempatkan sesuatu pada tempatnya, tempatkan posisi anak sesuai dengan usia dan perkembangannya.
Ibu-ibu yang baik adalah mereka yang menyadari bahwa bentuk-bentuk tontonan seperti itu bukan semata sebagai hiburan, tetapi sudah menjelma sebagai musuh. Mereka secara pelan menggerogoti fikiran dan hati putra putri agar menjadi liar dan hidup diluar kendali agama.
Ibu-ibu yang bijak adalah mereka yang menyadari bahwa keberadaan sarana teknologi tidak lagi sebatas sarana pembuka cakrawala dan komunikasi, namun sudah menjelma menjadi trainer massal yang menuntun anak-anak menjadi hidup seperti binatang.(Ummu Aisyah)
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (At-Tahrim:6)
So, berbahagialah menjadi seorang Ibu karena beragam hadiah datang dari-Nya langsung tanpa potongan selama tugas-Nya masih setia dirawat setiap detik helaan nafas. Sejenak, berbahagialah dengan SMS yang diwasiatkan oleh Rasulullah:
“Siapa yang diuji(oleh Allah SWT) dengan suatu kesulitan yang ditimbulkan oleh keberadaan anak-anaknya itu menjadi perisai baginya dari api neraka.” (Riwayat Bukhari)
Selasa, 05 Juli 2011
Ku mencintaimu....
Kumencintaimu dengan hati....
Yang kadang pasang karena imanku sementara tinggi
Yang kadang surut karena bungsuku lebih mendominasi
Kumencintaimu lewat kata....
Yang terbentuk sejak kau menawariku satu kata
Kala lisanku belum terbiasa mengucap sebaris kata
Kala tanganku kaku tak mampu menggores sebaris kata
Kala mataku berbinar melihat indahnya rangkuman kata
Kumencintaimu karena-Nya...
Yang hadir sebelum aku masih berkelana
Yang menyambutku dengan tawa yang mesra
Yang mengajakku berkeliaran kemana-mana
Yang mencubitku ketika aku berlagak manja
Kumencintaimu dengan sebaris doa
Yang akan hadir mengisi harapan yang sama
Yang akan teringat kala lisanku tak mampu berkata-kata
Yang akan bebas mengalir Kala keterbatasanku hanya berada dipenghujung doa
Yang kala kalimat motivasi tak kunjung putus asa
Kumencintaimu dengan segenggam keyakinan
Yang tak akan berujung tanpa tahap kepastian
Yang tak akan kuat tergenggam kala genggaman tak disertai tindakan
Yang kadang pasang karena imanku sementara tinggi
Yang kadang surut karena bungsuku lebih mendominasi
Kumencintaimu lewat kata....
Yang terbentuk sejak kau menawariku satu kata
Kala lisanku belum terbiasa mengucap sebaris kata
Kala tanganku kaku tak mampu menggores sebaris kata
Kala mataku berbinar melihat indahnya rangkuman kata
Kumencintaimu karena-Nya...
Yang hadir sebelum aku masih berkelana
Yang menyambutku dengan tawa yang mesra
Yang mengajakku berkeliaran kemana-mana
Yang mencubitku ketika aku berlagak manja
Kumencintaimu dengan sebaris doa
Yang akan hadir mengisi harapan yang sama
Yang akan teringat kala lisanku tak mampu berkata-kata
Yang akan bebas mengalir Kala keterbatasanku hanya berada dipenghujung doa
Yang kala kalimat motivasi tak kunjung putus asa
Kumencintaimu dengan segenggam keyakinan
Yang tak akan berujung tanpa tahap kepastian
Yang tak akan kuat tergenggam kala genggaman tak disertai tindakan
Minggu, 26 Juni 2011
Merubah Racun Menjadi Susu
Terkadang lisan begitu cepat mengeluarkan kata tanpa membingkainya dengan berfikir. Baikkah yang akan dikatakan nanti? Menyakitkan orang atau tidak? Kira-kira nantinya orang berfikir apa ya? Apakah nantinya bermanfaat buat orang lain?
Sebaiknya begitulah fikiran kita sebelum menyerahkan sejumlah kata pada lisan. Jadi begitu logis kalau akal sebaiknya berada didepan lisan bukan sebaliknya. Kita harus bisa memahami setiap keragaman kepribadian orang lain agar dalam bergaul bisa secara tepat sasaran kita masuk, baik itu sekadar berbagi informasi, menasehati, bergurau ataupun sekedar sharing.
Mungkin kebanyakan kita berfikir. Kalo begitu kita harus mempelajari setiap kepribadian orang lain. Yup! Karena kepribadian orang itu banyak sebagaiman dikelompokan oleh berbagai penulis. Ada yang mengklasifikasinya sanguinis, phlegmatis, melankolis, perfeksiois dan masih banyak lagi. Memang solusi ini perlu dan baik karena dengan mempelajari kepribadian kita akan mudah mengklasifikasikan teman-teman, orang tua , dan siapa saja yang ada disekitaran kita. Untuk mengetahui bagaimana kriteria respon yang tepat.
Sehingga pada imbasnya dalam diri kita akan terbentuk sebuah dinding pembatas dalam hal berinteraksi dan menjalin hubungan dengan siapa saja. Karena modal berupa mengetahui orang lain telah kita isi dulu dalam memory. Maka bisa disimpulkan sebuah hal yang keliru jika kita bergaul hanya dengan orang yang baik-baik saja( sopan santun, pemaaf, cerdas dkk) sehingga kita terkadang mengabaikan teman yang terkenal gudangnya hewan dan kata-kata amis lainnya, judes, sombong dan sifat negatif lainnya. Padahal justru kita harus melakukakn pedekate dan perlu digaris bawahi kita tak boleh terikut arus.
Maka, sebelum mempelajari kepribadian orang lain kita sebaiknya mengenali dulu kepribadian kita. Kita buat antibodi yang kuat agar tak gampang terkena virus dari orang lain. Mencegah lebih baik dari pada mengobati! Prinsip inipun berlaku buat kita jika ditinjau dari sudut kepribadian.
Kiranya kita harus merenungi kembali tentang dialog panjang antara Abu Dzaar ra dengan Baginda Rasullullah SAW. Yang ketika itu Abu Dzaar memasuki mesjid dan menemukan Rasulullah duduk seorang diri. Maka Abu Dzaar mendekati dan duduk disamping Rasulullah dan terjadilah dialog panjang yang penuh hikmah. Ditutup dengan pesan Rasulullah berupa amalan kepada Abu Dzaar.
“ Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yang engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yang engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri”
Kemudian Rasulullah memukul dada Abu Dzaar dengan tangannya seraya bersabda:
“ Tiada akal seperti kebijaksanaan, tiada wara seperti memahami diri dan tiada kebanggaan keturunan seperti akhlak yang baik”
Dari sini kita bisa menyimpulkan 3 poin penting yang berkaitan dengan memahami kepribadian orang lain.
Yang pertama, ternyata jauh sebelum bermunculan teori-teori kepribadian ternyata Rasulullah telah memesan untuk mempelajari tentang diri sendiri karena dari mempelajari maka secara refleks pelajaran yang kita temui dari diri sendiri akan mencegah kita mencampuri urusan orang lain. Dan ini tentunya logis, dimana setiap kita tak ingin urusannya dicampuri orang lain. Benar kan?
Yang kedua, sudah menjadi sebuah etika bagi seorang muslim untuk tidak menyesali setiap perbuatan orang lain yang tidak kita sukai. Meskipun menyesal adalah refleks, tapi jang terbawa arus oleh penyesalan itu sendiri. Dan tentunya yang tidak kita sukai kebanyakn refleks dari keinginan hati. Sebagaimana yang kita tahu bahwa hati selalu mendorong pada kebaikan. Jika ada sesuatu yang mengusik hati, itulah yang sering kita sebut tidak kita sukai berdasarkan tinjauan hati. Tinjauan yang paling hakiki.
Jadi belajar adalah solusi. Belajar dari ketidaksukaan sikap orang lain agar kita tidak menularkan ketidaksukaan kita pada orang lain. Dan coba kita mengingat kembali berbagai episode hidup yang pernah kita jalani. Mungkin kita pernah bersikap seperti yang ditunjuka norang lain yang tidak kita sukai?? Ingat! Lingkungan akan memberikan respon yang sama seperti apa yang pernah kita berikan.
Apa salahnya kita merubah racun menjadi susu?? Masa bisa?
Yah, kreatif cukup jadi pegangan sekaligus jawabanya. Merubah racun kata-kata yang menggores hati menjadi sebuah susu yang tidak meracuni hati kita untuk mengusik kembali, tapi justru menjadikan kita sehat dalam ruang hati yang terkadang berpolusi. Sehingga dibalik kandungan kalsiumnya yang tinggi bisa menguatkan kita. Agar di masa mendatang terhindar dari osteoporosis, yang akan menggerogoti hati kita menjadi mudah rapuh hanya karena hal yang tidak kita sukai.
Sebaiknya begitulah fikiran kita sebelum menyerahkan sejumlah kata pada lisan. Jadi begitu logis kalau akal sebaiknya berada didepan lisan bukan sebaliknya. Kita harus bisa memahami setiap keragaman kepribadian orang lain agar dalam bergaul bisa secara tepat sasaran kita masuk, baik itu sekadar berbagi informasi, menasehati, bergurau ataupun sekedar sharing.
Mungkin kebanyakan kita berfikir. Kalo begitu kita harus mempelajari setiap kepribadian orang lain. Yup! Karena kepribadian orang itu banyak sebagaiman dikelompokan oleh berbagai penulis. Ada yang mengklasifikasinya sanguinis, phlegmatis, melankolis, perfeksiois dan masih banyak lagi. Memang solusi ini perlu dan baik karena dengan mempelajari kepribadian kita akan mudah mengklasifikasikan teman-teman, orang tua , dan siapa saja yang ada disekitaran kita. Untuk mengetahui bagaimana kriteria respon yang tepat.
Sehingga pada imbasnya dalam diri kita akan terbentuk sebuah dinding pembatas dalam hal berinteraksi dan menjalin hubungan dengan siapa saja. Karena modal berupa mengetahui orang lain telah kita isi dulu dalam memory. Maka bisa disimpulkan sebuah hal yang keliru jika kita bergaul hanya dengan orang yang baik-baik saja( sopan santun, pemaaf, cerdas dkk) sehingga kita terkadang mengabaikan teman yang terkenal gudangnya hewan dan kata-kata amis lainnya, judes, sombong dan sifat negatif lainnya. Padahal justru kita harus melakukakn pedekate dan perlu digaris bawahi kita tak boleh terikut arus.
Maka, sebelum mempelajari kepribadian orang lain kita sebaiknya mengenali dulu kepribadian kita. Kita buat antibodi yang kuat agar tak gampang terkena virus dari orang lain. Mencegah lebih baik dari pada mengobati! Prinsip inipun berlaku buat kita jika ditinjau dari sudut kepribadian.
Kiranya kita harus merenungi kembali tentang dialog panjang antara Abu Dzaar ra dengan Baginda Rasullullah SAW. Yang ketika itu Abu Dzaar memasuki mesjid dan menemukan Rasulullah duduk seorang diri. Maka Abu Dzaar mendekati dan duduk disamping Rasulullah dan terjadilah dialog panjang yang penuh hikmah. Ditutup dengan pesan Rasulullah berupa amalan kepada Abu Dzaar.
“ Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yang engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yang engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri”
Kemudian Rasulullah memukul dada Abu Dzaar dengan tangannya seraya bersabda:
“ Tiada akal seperti kebijaksanaan, tiada wara seperti memahami diri dan tiada kebanggaan keturunan seperti akhlak yang baik”
Dari sini kita bisa menyimpulkan 3 poin penting yang berkaitan dengan memahami kepribadian orang lain.
Yang pertama, ternyata jauh sebelum bermunculan teori-teori kepribadian ternyata Rasulullah telah memesan untuk mempelajari tentang diri sendiri karena dari mempelajari maka secara refleks pelajaran yang kita temui dari diri sendiri akan mencegah kita mencampuri urusan orang lain. Dan ini tentunya logis, dimana setiap kita tak ingin urusannya dicampuri orang lain. Benar kan?
Yang kedua, sudah menjadi sebuah etika bagi seorang muslim untuk tidak menyesali setiap perbuatan orang lain yang tidak kita sukai. Meskipun menyesal adalah refleks, tapi jang terbawa arus oleh penyesalan itu sendiri. Dan tentunya yang tidak kita sukai kebanyakn refleks dari keinginan hati. Sebagaimana yang kita tahu bahwa hati selalu mendorong pada kebaikan. Jika ada sesuatu yang mengusik hati, itulah yang sering kita sebut tidak kita sukai berdasarkan tinjauan hati. Tinjauan yang paling hakiki.
Jadi belajar adalah solusi. Belajar dari ketidaksukaan sikap orang lain agar kita tidak menularkan ketidaksukaan kita pada orang lain. Dan coba kita mengingat kembali berbagai episode hidup yang pernah kita jalani. Mungkin kita pernah bersikap seperti yang ditunjuka norang lain yang tidak kita sukai?? Ingat! Lingkungan akan memberikan respon yang sama seperti apa yang pernah kita berikan.
Apa salahnya kita merubah racun menjadi susu?? Masa bisa?
Yah, kreatif cukup jadi pegangan sekaligus jawabanya. Merubah racun kata-kata yang menggores hati menjadi sebuah susu yang tidak meracuni hati kita untuk mengusik kembali, tapi justru menjadikan kita sehat dalam ruang hati yang terkadang berpolusi. Sehingga dibalik kandungan kalsiumnya yang tinggi bisa menguatkan kita. Agar di masa mendatang terhindar dari osteoporosis, yang akan menggerogoti hati kita menjadi mudah rapuh hanya karena hal yang tidak kita sukai.
Langganan:
Postingan (Atom)