Ayo Tuliskan!!

Laman

Kamis, 26 Mei 2011

gertakan ombak itu?



Hafizah Talita Azzah, gadis yang kini berusia 19 tahun. Meskipun berjilbab namun dia agak tomboy dilihat dari cara berjalannya, mungkin ini pengaruh sewaktu dia mengikuti ekskul bela diri  aliyah dulu.Yang membuat dirinya perlahan mewarisi sifat lelaki.
 Namun lihatlah dia saat ini yang masih dengan genggaman kertas ditangan. Yang semenjak tadi memilih untuk mengurung diri di kamar yang membuat hatinya terasa nyaman. Awalnya dia ingin membuat tugas kampus namun kesedihan masih terpancar seakan masih larut dalam ingatan ba’da isya kemarin. Puisi diatas seakan medianya mencurahkan kekesalan, kekagetan, kejenuhan terhadap orang tuanya.
 Kenapa secepat itu mengambil keputusan? Kenapa segitu bodohnya mengambil informasi kemudian langsung ditelan mentah-mentah, Apa tak cukup pesanku sewaktu itu? jika ada omongan yang terdengar aib jangan langsung di terima tapi di tanya langsung pada yang bersangkutan! Begitulan islam menyarankan.
Hatinya masih memilih membisu, tak ada doa kecil terlintas disana yang sekedar mengharap kemudahan dari-Nya. Fikirannya masih senantiasa mengambang, apakah selama ini dirinya yang salah? Salah memposisikan seseorang tersebut dalam rongga hati?. Gambaran wajah kak Arif mulai terlukis dalam ingatan. Yang baginya tak sekedar abang yang membuatnya memiliki kembali seseorang yang telah lama ini dirindukan. Yang senantiasa mengingatkannya untuk berhati-hati dalam setiap kali mengambil keputusan, menasehati di kala orang lain tak menyadari bahwa dirinya juga menyimpan masalah, bukan sekedar pemecah masalah. Namun jauh dilubuk hatinya, fitrah itu tersimpan indah terkemas dalam perasaan dan harapan yang sama. Terlalu cepatkah fitrah itu hadir? Ataukah dirinya sendiri yang terlalu cepat membuka tabir hatinya yang selama ini baru tersingkap?
“ Bapaknya itu dulu seorang polisi, namun sekarang tidak. Kalau sudah tidak berarti dia itu di pecat, nggak mungkin juga kalau dipecat terus nggak ada salah? Bapaknya jadi imam sampai botak karena sholat tapi tak tahunya apa? Masa’ bisa korupsi dana mesjid? Anaknya juga begitu, mungkin balik lagi kemari di pecat karena nggak becus kerjanya! Kerjanya saja seperti itu, bagaimana nanti kalau berkeluarga? Sampai sekarang mereka satu keluarga hanya bisa ngontrak!! Bapaknya saja sudah begitu, anaknya juga paling begitu!! Pokoknya bapak sudah tak mau anak itu datang kerumah. Berhenti hubunginya lagi!!
Kata–kata itu masih terus bergelayut dalam ingatannya. Masih terbayang wajah Arif ketika meninggalkan rumah dengan wajah yang dingin, ketika itu dengan selembut mungkin  Talita memperbolehkannya untuk pulang karena tidak enak dengan bapak, padahal dia butuh bantuan Arif sewaktu itu untuk membuat skenario tugas dari kampus. Semua karna bapak!
*********
Malam masih senantiasa menemani hatinya yang sementara gundah. Jendela masih dibiarkannya terbuka lebar layaknya mempersilahkan masuk mentari di pagi hari. Namun kini hatinya yang ingin dibelai dinginnya malam, karena hatinya masih menyisihkan uap kekesalan. Menangis bukan lagi menjadi jawaban sambil ditemani lembaran renungan yang menyisihkan air mata. Capek mata ini merespon fikiran yang terus-menerus memikirkan sesuatu yang tak pasti. Kenyataan kini berbicara kalau perasaan Talita begitu dalam kepada Arif. Sedalam keinginan seorang wanita memposisikan lelaki sebagai calon pendamping hidupnya. Talita merasa pantas jika lebel itu begitu seharusnya. Agama, keturunan, ketampanan akhlak semua telah ada. Tinggal dari segi kekayaan saja tampak belum terlihat karna masih tergolong perantau pencari modal. Namun dalam keseharian yang bisa dijadikan tolak ukur bahwa Arif adalah sosok yang bertanggung jawab dan pekerja keras, karena dirinya rela untuk cuti kuliah demi  membiayai adik-adiknya sekolah dan kebutuhan adiknya beroperasi.
Talita masih binggung. Memang keutamaan berbakti kepada orang tua adalah diatas segalanya jika posisi sebagai seoranga anak. Namun jauh dari itu, semua yang dikatakan adalah fitnah!! Jika dia membenarkan sama saja menyetujui kalau statment itu benar padahal semua itu salah. Karena keyakinan itu ada faktanya, dia yang menanyakan langsung kepada kak Arif tentang apa yang diucapkan kedua orang tuanya, sampai-sampai dirinya begitu malu karena semua itu adalah fitnah belaka sehinnga membuat kak Arif sempat menangis saat menjelaskan masalah tersebut lewat telfon.
Mungkinkah karena kelincahan syetan dengan strategi yang mampu membuat hati Talita kini dalam kebimbangan? Atau terlalu jauh hubungan mereka dari jalur islam sehingga membuatnya kini harus menerima keputusan orang tuanya yang begitu menyakitkan. Padahal semua yang diklaim oleh bapaknya hanyalah fitnah semata!
 Talita dikenal sebagai seorang yang begitu taat kepada orang tua. Segala keputusan orang tua selalu diikutinya meskipun terkadang dengan perasaan yang berkecamuk namun baginya semua itu adalah proses ikhlas. Bagaimanakah dengan masalah kali ini? Mungkinkah dia menerima keputusan bapak untuk kesekian kalinya ataukah tidak?
Talita masih dalam diskusi yang panjang antara perasaan yang harus di buangnya atau ada cara lain yang akan menjadi pilihan. Fikirannya membenarkan akan saran kakak tirinya yang begitu baik sekalipun tidak satu rahim  bahwa untuk sementara ini lebih baik dikurangi saja komunikasi antara mereka. Harapan juga jangan terlalu jauh mengingat orang tua sudah mengambil keputusan seperti itu, daripada nantinya menyesal lebih dalam. Yang sakitkan diri sendiri bukan bapak ataupun ibu. Semua juga demi kebaikan bersama. Kata-kata itu masih membekas dalam ingatannya.
**********
Seperti biasanya pagi itu pukul 07.30 Talita berangkat menuju kampus menggunakan angkot umum. Dan kini dia sementara duduk di angkot umum di bangku kedua belakang sopir. Kaca angkot masih menyisihkan belaian angin yang masih sedikit terjangkit polusi meskipun sedikit sejuk, namun tak sesejuk fikirannya kali ini yang masih menerawang di 13 tahun masa silam yang banyak menyisihkan polusi batin. Selama 2 hari ini hatinya masih diliputi butir-butir kekecewaan, tak ada lagi sifat periangnya di rumah. Suasana rumah seolah sepi tanpa ocehan humornya yang membuat kehangatan dalam rumah. Hatinya masih tersayat dengan tuduhan bapak yang tak berujung pada keadaan sebenarnya. Hatinya masih bimbang untuk memutuskan apa yang seharusnya dilakukan sekarang. Tak tahukah mereka dirinya sangat merindukan kakaknya yang 13 tahun ini yang entah bagaimana kabarnya? Semenjak peristiwa itu titik kekecewaan kepada bapak mulai membentuk bercak dalam selimut hatinya. Karena perceraian itulah yang memisahkan dia dengan ibu dan kakaknya yang sangat dicintai.
Kenangan masa kecil sewaktu bermain dengan kakak, yang sewaktu itu Talita berusia 5 tahun dan kakaknya berusia 10 tahun masih tersimpan jelas dalam memory ingatannya. Kehangatan sewaktu itu masih tersimpan di berkas hati. Ketika bermain dan bercanda yang terkadang dia menangis karena ulah kakaknya kemudian dia berlari menuju pangkuan bunda dan telinga kakak merah karena mendapat jeweran dari bunda. Karena ulahnya dirinya menangis sambil tertawa. Tapi tetap saja ledekan cengeng masih berbisik di telinganya kala itu. semenjak itu dia jarang menangis di depan kakak, karena kalau nangis dirinya memilih masuk kamar saja. Disitulah tempat yang paling aman dari gangguan kata-kata kakak yang difikirnya sewaktu itu tidak ada hati, padahal hanya karena satu alasan supaya kakak nggak ledekin lagi sebagai anak cengeng. Tangisan bukan lagi bermakna cengeng baginya sekarang karena disamping proses penyesalan, terkadang pengaruh kondisi yang mengharukan ataupun menyedihkan ternyata menangis juga menyehatkan karena terdapat semacam enzim disana yang bisa membersihkan setiap kotorang yang nginap di mata.
Ahh...andai kau tahu perubahanku kak. Aku merindukanmu. Ingin berdiskusi denganmu apa yang seharusnya aku lakukan sekarang ini?
 Kata-kata ini yang selalu dia harapkan, suatu saat kakak akan datang dan menjawabnya dan menghapus airmata yang sementara berderai ini. Namun dia tak ambil pusing dengan penumpang lainnya yang heran akan tingkahnya.
 Semenjak itu cerai menjadi hal yang paling dibencinya. Telah tertata indah kebencian akan kata cerai dalam bangunan otaknya yang begitu kuat. Karena cerai semua hidupnya berantakan! Berantakan namun tak membuat dirinya ikut berantakan. cukuplah itu jadi retakan dalam hatinya. Semenjak prinsip hidupnya berubah bahwa apa yang terjadi, dan bagaimana sekarang  itu manifestasi dari tanggung jawab orang tua, tapi bagaimana  kedepan adalah tanggung jawab diri sendiri bukan orang lain! Itulah yang membuatnya sedikit tenang, namun tetaplah ada ruang kosong yang tak terisi di lubuk hatinya. Kenapa harus cerai? Apa orang tuanya yang super sibuk dengan alasan kerja untuk kebahagiaan anaknya, namun di sisi lain tak memikirkan kebahagian hati anaknya akibat cerai? Mana bukti kebahagian yang jadi alasan mereka sibuk di luar, namun sekarang nyatanya demikian? Malam kami tidur, mereka baru pulang. Paginya kami baru bangun merekapun  pergi dengan alasan kerja demi kami!! Apa itu kebahagian yang mereka maksud? Hanya hari minggu yang sering memperindah nama hari yang kukenal, karena hanya hari itu aku merasakan malaikat titipan tuhan itu hadir menambah warna. Bahkan merubahnya dari senin hingga jumat, karena sabtu mereka jarang dirumah!
Kekosongan itu perlahan terisi ketika dirinya mengenal kak Arif, karena kak Arif mengingatkan pada sosok kakaknya. Bahkan terkadang dia berangan bahwa kak Arif adalah kakaknya namun menyamar hanya untuk melihatnya. Namun fikiran konyol itu tidak mampu bertahan karena dirinya tahu benar siapa kak Arif. Awalnya dia hanya menggangap sebagai seorang kakak saja yang begitu dirindukan sejak perpisahan itu. Namun dirinya tak sadar bahwa Arif menyayanginya bukan sekedar adik saja dan diapun tak tahu sejak kapan perasaan aneh itu meradang hingga membuatnya saat ini sulit bernafas mencari udara solusi yang bijak. Syetan seolah bermain-main dalam perasaan Talita saat ini, perlahan mengaburkan makna cinta namun intinya tetaplah seperti pada umumnya yakni menjerumuskan manusia di lubang harapannya, yang setiap langkah menuju lubang sana selalu di hiasi dengan alasan yang indah. Bisakah Talita mem-format kegundahannya kali ini dengan men-delete sebagian teks hidupnya yang telah terinfeksi oleh virus merah jambu, dan siap membersihkan polusi batinnya kali ini dengan sejuknya cinta sejati. Cinta yang telah terbingkai oleh tali pernikahan yang membuat segala status haram berubah drastis menjadi halal. Yang tentunya bukan untuk seusianya kali ini. Itulah doktrin yang telah tumbuh subur dalam fikirannya bahwa menikah nanti setelah memperoleh kerja, doktrin yang diberikan bapaknya semenjak memasuki dunia perkuliahan.
 Tiba-tiba ucapan sopir angkot  membuyarkan fikiran Talita berhubung posisi angkot sekarang telah di depan kampus, Talita segera membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih. Fikiranya perlahan berebut seolah ingin menghipnotis bahwa beban fikiran di rumah cukup sampai disini, karena berbagai mata kuliah siap antri untuk mengambil fokus pada titik dimana saatnya dia berdiri sekarang ini.
*********
Setibanya di kampus ternyata dosen belum juga masuk, info baru dari teman-teman kalau dosen bakalan datang terlambat. Dikelas telah banyak teman-temannya yang telah pada datang, namun terlihat rupanya mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang lagi oll, baca, ngobrol, ternyata masing-masing telah memiliki kesibukan. Berhubung dosen belum datang Talita memilih untuk melanjutkan bacaannya, persiapan untuk semester pekan depan. Baginya segala sesuatu haruslah dipersiapkan, apalagi otak yang dimilikinya tak seencer teman lainnya. Belumlagi mata kuliah anatomi, subhanallah. Mata kuliah yang paling banyak membuat saraf pada kriting. Dan mendengar pengalaman dari kakak tingkat juga praktikumnya minta ampun, dijamin nggak bakalan lulus sekalipun belajar. Namun berbeda menurutnya, segala sesuatu itu mudah!! Jangan dipersulit hanya karena perasaan. Toh setiap yang di tanam pasti akan menuai. Tergantung gimana proses menanamnya, hasilnya tentulah nggak beda tipis.
Talita mendengar obrolan teman-temannya yang lagi heboh saling sambung menyambung cerita. Ternyata persoalan teman yang sering kirim SMS ke send all yang mana semua itu tentunya membuat teman lain pada terganggu. Talitapun sebenarnya juga kesal, gimana nggak kesal? Setiap aktivitasnya sampai suasana hati yang lagi putus cinta semua di send all sama teman sekelas.
 ”Buat full memory saja deh, masa baru bangun sudah di banggunin sama SMS-nya yang segudang kayak gitu, nggak karuan juga!!”.
 “Sudahlah itu, masa sih nyokapnya di panggil monsterlah karena alasan simple, nyokapnya nggak restuin dia sama pacarnya. Makanya tuh anak sekarang lagi stress!”.
 “Kalo SMS-nya masuk, aku tuh langsung delete, nggak perlu baca apalagi mikir-mikir. Palingan juga lebay deh”.
 “Duh, kalo aku jadi dia, mending putus deh. Lagian cowoknya juga udah ada gebetan baru, padahal kan lagi ada masalah gini”.
 Talita yang semenjak tadi mendengarkan ocehan teman-temannya jadi ikutan penasaran, bukan karena pengen ikutan gosip tapi ingin memastikan apa yang didengar barusan. Karena dia merasa tersindir.
 Kata-kata itu? Astagfirullah hal’adzim..apa aku termasuk sepertinya? Sikap dinginku di rumah?
 Hati Talita menduga. Talita memastikan dengan menanyakan langsung sama teman akrab Tasya, temannya yang sementara naik daun ini karna SMS-nya yang selalu gentayangan di layar handphone sekelas. Dan ternyata benar kalau temannya yang satu itu kayak lagi stress sama nyokapnya, ditambah lagi kesedihan sebelumnya kalau bokapnya baru saja meninggal. Selama ini Tasya paling dekat sama bokapnya. Pantaslah jika rasa kehilanggan itu belum terhapus, dan perasaaan sedih itu selalu menemani hari-harinya. Semua ini bisa dibuktikan dari SMS-nya yang selalu dikirim pada teman sekelasnya. Nggak percaya? Periksa deh di Hpnya Talita sekarang. Belum lagi dia harus ber-adaptasi dengan kenyataan. Ternyata kenyataan lain datang menghampirinya bagai membangun istana di atas pasir. Dirinya harus tergelam bersama istana yang telah lama terbanggun. Alasan karena ortu mengharapkanya untuk serius kuliah dulu, setelah sudah kerja baru bisa membangun istana baru di lahan subur hatinya.
Begitulah prinsip kebanyakan orang tua sekarang, mengingat dunia makin maju, standar hidup tentunya ingin berjalan beriringan. Tak ada yang ingin hidup dalam lingkarang kekurangan, selama kecukupan masih bisa untuk diperjuangkan. Semua ada waktunya dan pasti akan berjalan lancar sesuai ukiran tinta yang jauh telah menuliskan berbagai skenario hidup dari persetujuan sang sutradara yang maha profesinal. Tak ada yang mampu seperti-Nya. Setiap detakan jantung memompakan saluran hidup disitulah karya agung-Nya bertebaran dalam layar kehidupan, sutradara manakah yang mampu menandingi-Nya? Bersaing dalam layar lebar. Tentulah tak ada! Sutradara manakah yang mampu membuat film yang setiap gerak-gerik, kata demi kata menyimpan mutiara yang senantiasa memancarkan cahaya hidayah-Nya. Semua mengandung arti setiap episode yang terlewatkan, tak ada masalah konyol yang berujungkan solusi yang tak berjalan seiring lurusnya langkah hati dan bijaknya langkah akal.
Dalam keheningan suasana hati tampak terlihat keputusan yang siap menanti persetujuan melalui tanda tangan hati. Talita segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Dalam fikirannya SMS kali ini lebih pantas untuk menjembatani keputusanya dengan kak Arif. Baginya, sudah cukup perasaan yang belum waktunya ini, karena semua ini sama saja membangun istana dalam alam fikiran. Semua tak ada kepastian, karena kepastian ada di lauf-Nya. Sebelum dia mampu menatap dunia, semua telah tertulis disana. Namun hanya satu solusi yaitu berusaha dan berdoa. Laa yughayyiru taqdir illa biddua’i. Tiada yang mampu merubah taqdir kecuali dengan doa. Hatinya merasa tersayat akan sindiran hadis tersebut. Dia terlanjur menanam harapan yang tak pasti yang tak tahu kapan masa panen akan datang. Boleh saja  berusaha sebagai ungkapan syukur atas nikmat akal untuk berfikir tidak putus asa yang akan menghadang.                     
  “Kak, de minta komunikasi kita dikurangi saja mulai sekarang. Kk tahu gimana kondisi kita sekarang kan? De pernah jelasin sewaktu kk nelfon. Memang berat, tapi itu sudah keputusan de. De hanya menjaga perasaan saja biar nggak terlalu dalam. Demi kebaikan bersama juga untuk ke depan. Kan sudah komitmen sejak awal kita hanya ikhtiar hasilnya gimana, terserah sama Allah karna keputusan-Nya yang maha bijak. Itukan yang kk pernah bilang sama de. De selalu ingat. De pengen lebih fokus sama kuliah.
Tanpa berfikir panjang Arif segera menghubungi Talita, setelahnya terdengar dialog antara mereka melalui telfon.
“assalamualaikum” Suara Arif memulai pembicaraan
“waalaikumussalam” terdengar suara Talita dari seberang. Beberapa menit suasana hening. Namun Arif dengan cekatan segera menanyakan keheranannya.
“ De, kenapa secepat itu bilang komunikasinya mau di kurangi. Memangnya ada apa de?” Arif dengan keheranannya seakan tak sabar ingin mendengarkan penjelasan Talita.
“ De, kan sudah bilang kak. Daripada nantinya penyesalan lebih dalam lagi karena nggak direstuin orang tua, mending jalan tengahnya kayak gini. Dede takut kak, takut semua ini bakalan sia-sia saja. Sebenarnya de juga nggak mau  kayak gini”
“ iya, kakak ngerti perasaan dede. Tapi kenapa begitu cepat kayak gini, memangnya nggak ada jalan lain? Kakak nggak kuat de kalo komunikasi di kurangin, de pernah kan kakak ceritain soal wanita dulu yang kakak sayangi. Dia minta putus komunikasi tapi apa de, setelah itu kakak hanya di balas dengan surat undangan. De ngerti kan perasaan kakak?
“ Dede ngerti kak, tapi itu saja yang pengen de minta sama kakak. Hanya karena satu hal, menjaga kemungkinan terburuk yang nggak pernah kita bayangin sebelumnya. Bisa kan kak?”
“ tapi de siap kan konsekuensi ke depannya gimana?”
“ Insyallah iya kak, de tahu karena itu juga yang de harapkan sama seperti kakak. Kalo nggak, ngapain juga selama ini de pengen ngenal kakak lebih dalam, komunikasi masih sering. Semua ada tujuannya. Cukup satu saja pengalaman de sewaktu itu, untuk kali ini nggak”
“ Iya, kakak percaya. Ya sudah kalo begitu mulai sekarang komunikasinya di kurangi saja. Dede lebih fokus saja sama kuliah. Insyallah kakak juga akan lebih keras lagi dalam bekerja karena tanggung jawab kakak sama adik-adik masih belum selesai. Dede bantuin doanya juga ya? Biar semua yang kita jalani ini nggak sia-sia. Allah nggak buta de, setiap yang benar pasti ada jalan. Kakak yakin itu”.
“ Iya kak. De akan usahain setiap kali berdoa akan menyisipkan hal itu, karena itu juga harapan dede. Nggak mau semua ini berakhir dengan sia-sia”
Semenjak pembicaraan itu Komunikasi antara keduanya semakin jarang daripada biasanya. Yang terpenting hanya saling bertukar keadaan saat itu, tanpa ada pemutusan silaturahim. Keduanya hanya bisa pasrah akan keputusan akhir nanti bagaimana. Apakah berujung pada harapan ataupun sebaliknya semua tergantung dari catatan yang maha bijak. Yang tak terjangkau sekalipun ikhtiar anak manusia semaximal mungkin. Karena apa yang terbaik dimata manusia belum tentu itu terbaik dimata penciptanya. Semua telah teratur oleh sang maha sutradara yang tiada banding oleh siapun. Dialah ALLAH sang maha kuasa, semua keputusan tergenggam dalam kekuatan tangan-Nya. Namun satu hal yang diyakini mereka bahwa hanyalah doa dan usaha yang mampu merubah semua catatan disana.





“Anak Kesayangan Papa”



Rasa penasaran ini makin mulai mendekati klimaks. Gimana sih anaknya? Sampai bapak begitu sayang sama dia. Apa yang ada didalam dirinya, sampai aku sendiri tak begitu di anggap? SMS itu bukti paling jitu jika dilampirkan, untuk melihat sejauh mana sayangnya bapak sama tuh anak. Andai bapak belum pergi......
Lelaki dengan berkulit sawo matang, dengan tinggi badan 175 cm berpakaian kaos oblong putih dipadukan celana jins serta topi berwarna putih, ditemani tas kecil yang menggantung disamping celana jinsnya. Sekilas tampak terburu-buru meninggalkan MCC dan langsung mencari angkot pasar 45, setelahnya naik angkot kairagi untuk menuju tempat berdasarkan kesepakatannya dengan adik barunya, yang kini status baru itu mulai mengisi lubuk hatinya.
Nada dering mengalun bertanda SMS masuk di HP Arman yang kini sementara di angkot menuju tempat janjiannya dengan adik baru.
“ Kak, udah dimana?”
 SMS dari Dinda, gadis yang kali ini perlahan menyita perhatiannya selepas kematian Bapak seminggu yang lalu. Tentunya sejak dia menginjakan kaki di manado tepatnya ketika HP bapak kini beralih tuan, yang sementara menyendiri di sakunya. Sekitaran seratus lebih SMS bersarang disana. Yang tentunya menyimpan sepenggal kisah “terlanjur sayang” yang tak lain dengan gadis yang akan ditemuinya sekarang ini.
“ Di pal 2, Dinda dimana?” balasnya ke HP seberang.
“ Sementara di jalan kak” SMS masuk, makin membuatnya penasaran.
######
Panas menyengat, jalanan kini tampak seperti  tontonan yang dipenuhi  angkutan yang pada mondar – mandir kayak setrika. Didepan Pasar Segar, seberang jalan posisi Dinda sekarang, sebagaimana janjinya dengan kak Arman. Sosok yang sekarang ini mulai mengambil rasa penasarannya, karena diawali dengan kedekatannya dengan Pak Mahmud, yang seminggu kemarin didengarnya telah meninggal dunia akibat terpeleset di kamar mandi hingga tak sadarkan diri. Dan kini anaknya yang perlahan mulai menggantikan posisi bapak yang telah pergi jauh menghadap pangkuan illahi.
Kenapa aku harus terlibat masalah keluarga orang yang nggak ada hubungan darah? Apa makna dibalik semua ini? Kayak sinetron aja. Banyak statusnya. Binggung.
Dinda bermaksud untuk tidak masuk terlebih dulu menuju Pasar Segar, pasar terbaru yang kini dimiliki manado. Bersaing ketat dengan pasar 45 yang menjadi pasar rujukan kebanyakan  orang. Namun jika bandingkan dari segi fisiknya tentunya begitu berbeda. Pasar segar jauh lebih modis. Yang paling mencolok warna catnya yang berwarna-warna menyejukan mata. Namun tetap saja menurut sebagian orang yang sering Dinda dengar dalam angkotan, ibu-ibu yang pada  sering membanding-bandingkan soal harga . yang intinya harga memang beda tipis, pasar 45 jauh lebih murah.
Dinda masih memilih berdiri di seberang jalan untuk melihat lebih dulu, bagaimana sih modelnya kak Arman?. Ditemani dua anak cewek berseragam putih abu-abu yang sementara nongkrong diseberang jalan sambil ketwa-ketiwi, nggak ngarti deh apa yang di omongin. Bukan nggak ngerti pembicaraanya, tapi lebih pada makna yang diperbincangkan. Cowokkk...yah, apalagi kalo bukan gitu. Pembicaraan  yang paling hangat untuk dijadikan topik anak cewek seusia mereka  sekarang. Namun itu juga suatu hal yang normal dalam usia remaja.
Sejak SMS tadi, belum ada juga lelaki yang turun dari angkotan umum dengan tinggi  175 cm. Menunggu, emank jadi kebiasan.
Tiba-tiba angkot dengan trayek “kairagi” berwarna biru perlahan menurunkan kecepatannya. Dan terlihat seorang pria dengan ciri-ciri yang dikenal Dinda dari penuturan kak Arman lewat pembicaraan di telfon kemarin. Kini langkahnya mulai menuju pasar segar. Dindapun seketika memotong jalan menuju ke pasar segar. Tampak dari kejauhan pria yang tadi dilihatnya sementara di counter pulsa. Dinda berjalan mendekati pria tersebut yang sementara menyebutkan nomor Hp-nya kepada si penjaga counter.
“ Kak Arman kan?” Dinda berucap sambil menunjuk dengan menggunakan telunjuknya .
 “ Iya, ini Dinda ya?” balasnya sambil memberikan selembaran uang kepada penjaga counter.
Arman menjulurkan tangan pertanda salam kenal, namun Dinda menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada untuk membalasnya. Begitulah baginya, meskipun status sodara memang saat ini melekat seiring kedekatannya. Namun tetaplah cahaya islam harus tetap bersemi dalam kedekatan. Keduanyapun sambil berjalan meninggalkan counter pulsa. Berjalan seperti menjauhi dari dalam pasar segar menuju ke luar.
“ Terus mau kemana ini? Dinda sudah makan belum?” tanya Arman memulai kembali sapaan.
“ Terserah kakak aja maunya kemana. Ohh...belum, bentar di rumah saja makannya” balas Dinda.
“ la, kak disini baru dua minggu . jadi belum tahu tempat makan yang halal dimana. Terserah Dinda saja mau makannya dimana. Yahh..hitung-hitung sambil ngobrol sama adik baru kesayangan papa. Besok kan kak pulang ke batam, makanya penasaran pengen ketemu Dinda”
“ Yaudah, kita naik angkot aja kak dari sini cari tempat makan. Karena disini kebanyakan yang punya minhum” jelasnya sambil melihat kanan kiri. Berderetan warung makan jika dilihat dari sebelah kiri, sebelah kanan. Nihil. Adanya warung nasi kuning BOHUSAMI diperbelokan jalan.
“ Oke deh. Dinda aja yang atur” tuturnya kembali.
Keduanya berjalan sampai di depan pasar segar untuk mencari ankot “lapangan”. Menuju warung Unyil yang terkenal dengan Coto Makasarnya yang lezat. Tempat yang bagi Dinda menyimpan kenangan masa lalu  yang harus secara tegas dia tinggalkan. Meskipun sulit.
Selama di ankutan keduanya berbincang bincang untuk menjalin keakraban. Dari sini Dinda tahu ternyata kak Arman berusia 36 tahun dan telah memiliki keluarga dan 2 orang anak, adiknya yang satu lagi di padang. Sementara pak Mahmud adalah papa kandungnya yang telah lama bercerai dengan mamanya, 20 tahun yang lalu. Dinda juga belum lahir tuh. Sementara itu Arman masih dengan pertanyaan yang seabrek tentang asal-usul Dinda hingga kedekatannya dengan papa.
#######
10 menit telah berlalu kini keduanya masuk di warung Unyil. Arman memesan 2 mangkuk coto makasar serta 2 botol teh kotak. Setelah itupun mereka menempati tempat yang tersedia dalam posisi berhadapan. Dan rasa penasaran yang masih menyarang pada keduanya sementara ini menggunting berbagai jaring melalui pertanyaan demi pertanyaan.
“ Nah, kak bisa tahu semua soal Dinda dari siapa? Kok infonya kayak detail banget kak?” Dinda melanjutkan pembicaraan di angkot tadi.
“ Oh, itu karena HP papa sekarang ada sama kakak.  SMS-nya sekitaran seratus lebih masih tersimpan di HP ini, makanya semua yang berkaitan sama papa kakak tahu” Arman menjelaskan sambil menunjukan HP  Nokia 6600 clasic milik papanya.
“ Hah? Jadi gitu ya kak, kirain tahunya dari siap gitu. Oh ya, emank kakak tahu makan Coto Makasar?” tanyanya lagi sambil menuangkan segelas air putih di gelasnya. Haus.
“ Tahulah, masa nggak. Batam kan kota miniatur indonesia makanya, segala makanan khas sudah ada disana. Jadi kalau kak datang ke manado udah nggak kaget lagi sama makanannya. Tinutuan, yah bolehlah. Apalagi  soto makasar.”
Pelayanpun mengantarkan pesanan di meja merekai. Dan ucapan terima kasih tentunya mengalir tanpa perintah.
“ Dinda awalnya kenal sama bapak dimana?” tambahnya sambil memeras jeruk nipis.
“ Gini kak ceritanya, kan sewaktu mau ke kampus hujan. Udah gitu angkot pada susah. Makanya bapak nawarin Dinda waktu itu. Kakak tahu kan? Kalo bapak setiap paginya nyopir buat refresing, bukan cari duit. Nah setelah penumpang laennya udah pada turun, kan tinggal Dinda. Ketika itu bapak bilang bahwa beliau teringat sama ananknya yang ada di padang. Makanya deh dari situ Dinda banyak tanya soal masa lalu bapak, kenapa liat Dinda sampe keingat sama ananknya. Pokoknya banyak deh kak. Nah dari situ kita dekat dan seiring hari bapak ngganggap Dinda kayak anaknya sendiri”. Jelasnya sambil mengaduk-aduk cotonya yang telah ditambahi kecap.
“ Nah terus, kenapa di akhir-akhir  SMS sebelum bapak meninggal kayaknya Dinda lagi marahan sama bapak? Memang bapak punya salah?”
“ Bukannya marahan kak, tapi jujur Dinda kecewa sama bapak sewaktu itu. Bapak udah bohongin Dinda, katanya bapak nggak punya istri sejak perceraian dengan mamanya kakak. Dan semua itu Dinda cari tahu sendiri dari ustad yang tempat tinggalnya masih sekitaran rumah bapak. Dan ternyata bapak itu masih punya istri, dan istrinya itu adalah Dokter Suryani. Dokter yang sering Dinda kunjungi kalo Dinda sakit sewaktu kecil. Wajar kan kalo Dinda kecewa? Wajar juga kan kalo Dinda nggak suka dan kecewa sama sikap Bapak? Makanya Dinda selama sebulan nggak pernah hubungi bapak. Bapak memang hubungi Dinda tapi, Dinda selalu reject dan nggak balas SMS bapak. Dan seminggu sebelum Bapak meninggal baru Dinda ketemu sama Bapak di jalan, itupun Dinda hanya salam saja nggak banyak ngomong sama Bapak. Dan baru tahu juga kalo bapak meninggal dari sepupunya dokter, karena beliau yang nelfon sama Dinda”
Dinda mulai miris jika mengingatnya lagi. Ada ketakutan sebagaimana wanita pada umumya, jika yang dia kenal ternyata menyembunyikan status yang memang penting untuk diketahui. Di KTP saja ada. Tidak mungkin hanya sebatas informasi ditiadakan. Aneh.
“ Iya kak ngerti, maka dari itu kak pengen lurusin kenapa papa sampai bisa kayak gitu. Mungkin papa masih kecewa dengan kita anak-anaknya yang sedikitpun nggak terlalu ngertiin bapak. Setiap kali komunikasi lewat telfon, selalu yang tercipta suasana panas karena perbedaan pendapat. Wajar saja, karena setelah papa cerai selama 2 tahun kita nggak tahu kondisi bapak. Karena papa langsung merantau dan nanti setelah di bandung baru ketemu. Belum lagi beliau dengan istrinya sekarang kan nggak punya anak maka bisa di maklumi bapak sangat merindukan sosok seorang anak yang perhatian, nggak suka ngebantah kayak kakak dan saudara kakak. Dan tentunya sosok itu semuanya ada sama Dinda dengan nilai ples lainnya yang begitu bapak banggain”
“ Ahh... kakak ini bisa saja. Dimakan dulu kak, bentar keburu dingin nggak enak lho” sambung Dinda sambil melahap Coto Makasar makanan kesukaannya.
“ Iya anaknya papa tersayang” canda Arman.
Keduanya melahap semangkuk coto makasar, sesekali bercerita kembali. Setelah selesai Arman minta maaf untuk merokok, seperti kebiasaanya setiap habis makan.
“ Ehh kak, papa tuh nggak ngerokok lho. Kok anaknya nggak ?” Dinda mulai kembali menyambung cerita. Melempar oporan bola keakraban.
“ Iya, kak tahu kalo papa tuh hidup pola sehat. Nggak ngerokok, minum teh, kopi  dan  sebagaimana yang nggak menyehatkan lainnya. Itulah yang kakak banggain dari papa. Beda jauh sama kakak” sanggahnya lagi.
“ Udah tahu kok nggak berubah kak? Memang udah berapa lama kak ngerokoknya?”
“ Sejak SMA kak ngerokok, karena sejak itu juga kak salah arah. Papa kan udah nggak disamping, jadi lebih gampang terpengaruh pergaulan luar”.
“ Kata papa ya kak, kalo orang yang merokok itu kayak nggak tahu membaca aja. Kan disitu sudah jelas kalo ngerokok bisa mengakibatkan  banyak penyakit. Kok masih dibuat? Emank kalo ngerokok apa enaknya sih?”
“ Yahhh.. itu kan papa. Iya sih tapi karena kebiasaan merokok jadinya biasa deh. Emank rokok itu nggak ada enaknya juga, gak ada rasa coklat, fanila or stowberri. Tapi karena kebiasaan dan tentunya Dinda tahu sendiri komposisi rokok itu, makanya kak bisa bilang biasa”
“ Gini deh orang sekarang,  udah tahu tapi banyak tapinya kalo mau merubah. Haha... iklan simpati kali ya ?” ocehnya dengan sedikit sindiran halus.
“ Adek ini bisa saja kalo becandanya” tambahnya.
“ Yaiyalah, masa nggak bisa. Bukan Dinda tuh namanya” balasnya sambil sedikit tertawa.
“ Oh iya, kalo dari SMS yang kak baca kayaknya Dinda lagi punya masalah yah sama pacarnya. Sampe bapak sendiri ikut terlibat kayak  gitu.” Tanyanya penasaran.
“ Sebenarnya bukan pacar sih kak. Tapi kalo penilaian kebanyakan orang memang pantes saja jika diklaim kayak gitu. Karena Dinda sama kak Arif punya perasaan dan harapan yang sama. Tapi nggak kayak pacaran anak sekarang. Yah kak tahu kan?.tapi sebelumnya Dinda itu ngak adopsi pacaran kak. Hanya saja ketika Dinda hampir setahun sakit-sakitan mungkin imannya lagi lowbeth makanya keceplung di dunia ginian. Tapi kak Arif anaknya nggak banyak macem kok. Tapi itu dulu, sekarang nggak lagi. Kita sahabatan saja untuk sekarang. Toh kalo memanang jodoh juga nggak bakalan kemana.” Jelasnya Dinda kembali , setelahnya meminum kembali teh botolnya.
“ Baguslah kalo begitu. Mending Dinda sekarang fokus dulu sama kuliah. insyaAllah jodoh nggak bakalan kemana. Tapi bukan berarti nggak ada usahanya. Tetap saja sama keputusan Dinda. Kak dukung. Pantesan papa sayang banget sama Dinda” Arman menutup pembicaraan.
Setelah kurang lebih beberapa jam mereka ngobrol. Kini mereka segera beranjak untuk pulang. Arman segera menuju kasir untuk membayar. Dinda berjalan meninggalkan tempat duduknya, kini dipinggiran jalan untuk mencari angkotan umum. Tetapi masih satu jurusan. Arman segera berjalan keluar berdiri sejajar dengan Dinda.
“ Kak ngerasa selama ngobrol tadi kayak nggak ada batas” Arman menyimpulkan.
“ Iya juga ya kak, kok bisa ya?”
“ Bagus deh kalo gitu, oh ya besok kak pulang nggak mau diantar nih di bandara?”
“ Yah, besok kan Dinda masih ke kampus. Ada ujian juga kak. Kalo kak datang kesini lagi deh baru di jemput, hehehe” candanya.
Berhubung angkutan telah datang, keduanya masuk sambil melanjutkan obrolan. Dinda turun terlebih dahulu ditutupi dengan salam perpisahan. Kini dia melanjutkan perjalan lagi memasuki lorong yang akan menembus ke rumahnya. Dinda bahagia. Ada lintasan hati yang terukir di sore ini.
Dibalik rahasia ada rahasia, bukan waktu yang akan menjawabnya karena dia hanyalah wadah untuk menata teka-teki . namun jawaban yang terbaik jauh telah tercatat hari, tanggal dan jammya menghiasi episode hari. Bahagia tercipta ketika tali persaudaraan tersambung dengan tali yang indah. Meskipun tidak semua keindahan diawali oleh kebenaran.
Papa, semoga Allah melapangkan tempat perisirahatanmu, mengampuni segala bercak dosamu dan menerima segala amal kebaikanmu.






“ Bawel Dan Bandel”



Dingin itu perlahan menjalar seiring panas yang menguap dibalik pori-pori kulit. Seakan mengeluarkan intruksi bahwa sinyal positif tubuh menemukan ada antigen yang masuk. Tubuhnya kini ingin menstransfer pesan dari hipotalamus untuk menggerakan seluruh tubuhnya berbaring sambil tak lepas bibir mungilnya melafazkan mantra-mantra yang berujung untuk mengingat-Nya.
“ Ya Allah...kapan ini semua berakhir” lirihnya dalam pembaringan.
Pintu kamar Safira tak terkunci, Bunda masih belum datang, Ayah juga masih diluar kota.
“ Assalamualaikum” suara kakak terdengar dari seberang pintu kamarnya.
Ingin rasanya dia membalas namun, mampunya hanya dari dalam hati. Tubuhnya masih belum mengizinkan untuk sekecilpun melakukan aktifitas. Arham masuk dengan ransel yang semenjak tadi masih tampak setia menggantung di balik punggungnya. Kelihatannya kakak baru pulang dari mendaki.
Arham, yang dipanggilnya kakak. Kini meletakan ranselnya dilantai. Dia tampak terkejut dengan sikap adiknya yang satu ini. Masih berbaring dengan kasurnya. Padahal sudah sore.
“ De, kenapa?” Arham mendekat sambil duduk dikasurnya yang bersprei biru dengan motif bunga matahari yang semetara mekar.
“ Pengen istirahat saja kak” jawab Ira dengan suara lembut dan pelan,  terdengar seakan menahan sakit. Yang rupanya penyakit Ira sementara kambuh lagi.
“ Tuh kan panas..udah minum obatnya belum??” suara Arham muncul kembali setelah menyentuh kening adiknya. Wajar saja panas karena Ira sempat mengukur panasnya dengan termometer dan menunjukan 38,50 C.
“ Belummm...”
“ Dede ini, kan kakak sudah pernah bilang kalo pengen sembuh obatnya di minum. Sekarang obatnya dimana???”
“ Laci...”
“ Pasti belum makan juga?”  Arham menduga.
“ Malas...”
Melihat tingkah adiknya yang dingin layaknya gunung es. Diapun menuju dapur sambil menenteng kembali ransel yang tadi diletakan dilantai untuk dikembalikan dikamarnya yang berada tepat disamping kamar Ira. Setelah diambilnya makanan dan minuman dengan secepat kilat kaos yang penuh dengan keringatnya tadi diganti dengan kaos yang bersih. Bau .
            Kini dia menuju kamar adiknya. Rasa sayangnya kini bercampur aduk dengan kesedihan yang tentunya dirasakan oleh orang yang dekat dengannya. Gadis yang tidak lain adalah adiknya yang 5 bulan akhir-akhir ini mengeluhkan rasa sakit kepala. Yang kata dokter nyeri kepala tipe tegang. Salah satu jenis sakit kepala.
             “ Mau kakak suapin atau makan sendiri?? Ucap Arham ssetelah balik dari dapur dengan membawa makanan serta minuman untuk adiknya. Capek selama mendaki seolah luntur ketika melihat Ira terbaring sakit lagi.
“ Pahit kak, de pengen istirahat” keluh Ira lagi.
“ Kakak kan udah ambilin, yaudah kakak yang suapin” awalnya Ira menolak karena sama saja baginya makan dan tidak makan semuanya seolah tak ada rasa. Karena kakaknya mengancam ala prikekakakan akhirnya dia menurut. Kalo nggak lagi sakit mungkin , semenjak tadi rambut Arham telah menjadi lokasi penjambakannya.
            Suapan demi suapan perlahan masuk keterowongan saluran pencernaannya sebagaimana pelajaran biologi SMA dulu.
            “ Udah kak, de kenyang” lirihnya ketika suapan yang kelima kali masuk.
            “ Baru juga dua kali kakak suapin, masa udah mau berhenti”
            “ Lima tahu...” Safira ngambek. Biasa, emosinya lagi labil. Namanya juga lagi sakit.
            “ Iya deh bandel, sekarang terakhir aja ya? Dede kan pinterrr..” canda Arham yang melihat kerutan otot di wajah Ira yang mengekspresikan sarafnya yang lagi ngambek.
            “ Ihhhh.....” senggolnya dengan menggunakan siku pada lengan Arham. Persis anak kecil yang lagi ngambek. Maklum si bungsu. Padahal kini usianya mulai beranjak 20 tahun selisih 4 tahun dengan Arham.
            Arham tak kunjung ke dapur untuk mengantarkan piring yang telah terpakai. Dia masih ingin menatap adiknya yang telah dua hari satu malam ini tak dilihatnya karena agendanya bersama teman pecinta alam lainnya mendaki gunung dua bersaudara yang tingginya 1328 meter di bitung.
            Ira meminta diceritakan gimana pengalaman kakaknya di gunung. Sampai- sampai Ira tertidur. Nggak tahu kenapa? Padahal kan bukan dongeng. Mungkin karena efek samping dari obat yang diminumnya.
#          #          #
            Dua hari berikutnya. Ira kembali sehat seperti biasa meskipun tak bisa dipungkiri rasa nyeri yang terkadang muncul membuat kepalanya terasa berat yang tak kunjung reda. Seperti berpetak umpetan dikepalanya. Yang jika terlalu di forsil. Kembali muncul.
            Tak hanya mengkonsumsi obat dari dokter, pemeriksaan mata yang seringkali diduga penyebab sakit kepala juga telah menjadi alur ikhtiarnya mencari kesembuhan. Meminum air yang telah dibacakan oleh kyai dari ayat-ayat Al-quranpun sudah. Namun nyeri yang terkadang mencekam tak ingin pergi belum kunjung sembuh.
            Saran dari pamannya yang dokter spesialis saraf untuk senantiasa melantunkan kalimat tauhid dan istigfar sesuai dosis. Kiranya menjadi parasetamol yang senantiasa dikonsumsi oleh hatinya. Yang tentunya secara teori juga berpengaruh terhadap aktifitas saraf yang divonis dokter mengalami ketegangan. Ahh...kayak kesetrum. Pake ketegangan segala?. SubhanaAllah. Namun belum juga menyembuhkan secara total.
            Yah, meskipun terkadang pasang surut optimisnya untuk sembuh sering muncul. Tapi untung saja dia termasuk hamba- hamba-Nya yang beruntung. Karena dikaruniakan kakak yang super duper bawel. Kayak dokter gadungan yang selalu penyuluhan diruang hatinya yang kadang redup karena rasa nyeri yang udah kayak bayang-bayang or nggak pake philips. Dimanapun, kapanpun selalu ada. Nggak ada bosennya.
Pabrik udah pada tutup. Tapi obatnya masih pada numpuk dibalik sosok kakaknya yang bawel. Terkadang pabrik cotton bud rasanya pengen dibelinya untuk menemani hari-harinya yang banyak kemasukan info dari kakaknya . lebay. Rupanya ada juga cowok yang blabermouth? Siapa lagi kalo bukan kakaknya?!
#          #          #
Kini Arham dibuat adiknya binggung. Ada-ada saja maunya. Ke gunung? Otomatislah ortu nggak pada ngasih izin. 50% mungkin Ayahnya ngasih, biasa si bungsu yang pinter ngerayu kayak kakaknya. Namun Arham berfikir lain lagi. Ada yang ingin disampaikan untuk adiknya yang bandel itu. Yang nggak mau dengerin kalo belum ada kenyataan yang ngasih kabar duluan. Meskipun ini memang modal yang penting untuk adiknya. Tapi...
            Memang ginni deh punya ade cewek. Apalagi dapat yang bandel. Nggak suka dengerin apa yang dipetuahkan oleh kakaknya. Yang sebagai seorang lelaki tentunya ingin menjaga adiknya. Aset bangsa. Yah ...sama deh kayak fikiran ortu yang punya anak gadis.
            Arham menuju dapur untuk menemui Bundanya yang sementara bercengkrama dengan area dapurnya. Untuk konsultasi bak perawat yang butuh intruksi dokter. Tapi dalam kasus yang berbeda. Dengan aturan kata yang sudah tersusun jelas di balik keinginaannya untuk memintakan izin buat adiknya yang lagi ngidam ke gunung. Berhubung udah banyak kali proposalnya nggak diterima dimeja ortu. Jadi deh,  kakak yang turun tangan.
            “ Nggak bisa! pokoknya Bunda nggak izinin. Kakak tahu kan gimana kondisa ade sekarang? Gimana kalo ade kenapa-kenapa sampe di puncak? Emanknya mau sewa ambulans ke gungung. Kalo iya Bunda izinin!” busyett..pedas. kayak makan cabe sekarung. Arham masih nelan ludah, telinganya kayak lagi keluarin uap-uap cabe. Wajar Bunda lagi buat sambel. Tangan Bunda masih gesit mengaduk-aduk.
            “ Iya. Kakak juga mikir gitu Bun. Tapi kan kasihan juga lihat Ira . Udah berapa kali juga Bunda sama Ayah nggak ngasih. Ya Bunda ya? Kakak janji bakalan ngawasin ade” rayu Arham untuk kesekian kalinya.
            “ Pokoknya Bunda bilang nggak. Tetap nggak, titik!” ucap Bunda dengan nada tinggi.
            “ Kakak jamin kalo sampe ke puncaknya hanya sejam Bun, kan rencananya gunung Mahaw yang di tomohon. Kan nggak lama Bun, bareng- temen lain juga kok” jelas Arham lagi. Setelah banyak beradu kata, entah kenapa akhirnya Bunda ngasih izin juga tak seperti biasanya jika Ira yang minta izin untuk jalan ke tempat lainnya.
Anak Bunda yang satu ini memang jagonya merayu. Pantas saja jika teman-teman ceweknya pada  rajin kerumah. Tapi tentunya bukan karena Arham yang mengundang. Dan seringkali tanpa sepengetahuan kedua anaknya, Bunda memperhatika kalo Ira seringkali ngejailin biar temen-temennya yang rada genit cepat pulang. Yang penting bawaannya untuk Arham telah sampai ditangan adenya. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
#          #          #
Kini kedua kakak beradik bersama rombongan lainya telah menuju tomohon. Kurang lebih satu setengah jam perjalanan. Meskipun mereka tiba pukul setengah sebelas siang yang panas. Namun di kota ini, panas itu seolah terselubung akan aroma kesejukan kota tomohon yang dikenal denga kota Bunga.
Indah,  karena rentetan gunung lokon dan mahaw selalu menjadi pemain dalam pandangan mata yang bolak-balik lihat kanan kiri selama perjalanan. Disana sini bunga-bunga dengan berbagai varietas terbingkai indah dalam tatapan sekilas.
Kini mereka singgah sebentar menuju mesjid Agung Al-Mujahidin di tomohon untuk menanti sholat jumat. Setelah itu baru mendaki gunung.
#          #          #
Dengan menggunakan angkotan umum mereka menuju ke kaki gunung dan acara mendakipun dimulai. Berbagi potret kreatifnya sang pemilik gunung mulai menaburkan hasil penciptaannya. Berbagai batang bawang, pohon jagung, kol layaknya berdiri bershaf-shaf rapi membentuk berbagai petak seolah menjadi permadani hijau. Yang membentang menmbangun latar gunung mahaw.
“ Heh...kapan nyampenya kalo benggong terus??” Arham menepuk bahu Ira sambil menarik tangan kirinya dan menunjuk dengan jari telunjuk kalo temen-temanya yang lain sudah pada jalan duluan.
“ Hehehe..iya kak. Lupa” Ira cengeesan. Masih terlintas dalam lubuk hatinya ungkapan syukur yang tertata bahwasanya Allah Maha Kreatif, menciptakan segalanya namun memberikan setetes perbedaan yang berbuah keindahan dengan berbagi style yang dimiliki. Ira senyum-senyum kecil sendiri. Arham yang semenjak tadi memperhatikan tingkah adenya yang kayak orang kampung. Begitu terkesan dengan pemandangan gunung.
Selama mendaki Ira tak hentinya memotret berbagai pemandangan. Arham seolah berperan ganda selain jadi pengawal menjadi kameramen juga yang siap memotret adiknya disetiap ada yang aneh-aneh menurut Ira.
“ Yang aneh-aneh itu baru namanya kreatif  karena nggak ada yang tahu kalo ngak di kasih tahu...hahah” ucap Ira ketika kakaknya mulai ngeledek kayak orang nggak pernah liat gunung dan model di hutan karena dikit-dikit kamera. Keduanya persis tikus dan kucing yang kejar-kejaran digunung. Lucu.
Setelah sejam lebih jalan akhirnya mereka sampai di puncak. Udara sejuk mulai memainkan aromanya. Rombongan lain pada mulai tawaf, katanya nggak ada kesan kalo nggak tawaf sampai dipuncak. Tapi kakak beradik ini memilih duduk, meskipun awalya Ira maksa pengen ikutan tawaf bareng teman lainnya. Lagian Ira tampak terlihat sedikit pucat. Kelelahan. Makanya si bawel maksa.
“ De, tahu nggak maknanya mendaki kita kali ini?” tanya Arham yang semenjak tadi bawelnya kumat karena adiknya yang paling mendominasi pembicaraan sejak dari kaki gunung. Ira mulai merajut kata-katanya memetik hikmah yang bisa dia petik selama perjalanan tadi. Arham mengiyakan semua namun ada satu hal yang penting jelasnya lagi.
“ De tentunya punya niat untuk sembuh, sama kayak ade punya niat untuk bisa sampai ke puncak. Masih ingat kan kakak udah berulang kali bilang kalo ade bakalan sembuh meskipun, nggak tahu kapan. Yang sama artinya  juga ketika di perjalanan tadi de tahan-tahan nafas karena perjalanan yang melelahkan. Belum lagi de keliatan girang banget, yah maklum taraf pendaki awal..haha” ucap Arham yang kemudian melanjutkan.
“Makanya biar cepat sembuhnya, hindari keluhan-keluhan ade. Bukan berarti kakak nggak empati. Kakak bisa rasain itu de,  meskipun bukan kakak yang sakit. Ketika ade senang, saraf ade juga nggak tegang. Apalagi diperbanyak dengan kalimat yang paman udah jelasain efeknya secara medis. Ade nggak mungkin sampe ke puncak kalo dari tadi ade nggak jalan sejam lebih. Begitupun ade nggak mungkin sembuh kalo ade nggak ada niat serta kesabaran kayak yang de lakuin tadi..iya kan bandel??” ucap Arham panjang lebar yang nggak tahu Ira yang disampingnya sempat terharu.
“ Hmmmm...iya-iya pak dokter yang bawelll...dede ngerti kuliah hari ini” jawabnya. Sambil meng-copy paste kedalam file hatinya yang udah tertumpuk dari kakak. Dirinya mulai berjanji dalam diri ketika pulang nanti niat besarnya untuk sembuh akan dia up-date tiap waktu serta perjalanannya hingga ke puncak kesembuhan.