Jakarta - Usai sudah pesta Piala Eropa 2012 dan Spanyol berhasil mempertahankan supremasi mereka.
La Furia Roja seperti mengajarkan bagaimana meraih kemenangan dengan menjadi diri sendiri, sekaligus menjawab segala keraguan yang ada.
Tak
ada yang meragukan kehebatan 'Matador' dalam empat tahun terakhir
dengan titel Piala Eropa dan Piala Eropa yang mereka sandingkan. Maka
wajar jika Spanyol tetap jadi unggulan saat pergi ke Polandia-Ukraina.
Tapi
jangan lupakan juga bahwa Spanyol datang dengan segelintir masalah yang
bisa jadi menghadang misi mereka di tahun ini. Masalah utama tetaplah
mengenai rivalitas para pemain Real Madrid dan Barcelona yang dianggap
masih terbawa hingga Iker Casillas cs serta Xavi Hernandez dkk memakai
jersey Spanyol.
Bukan
apa-apa, mengingat sebelum menuai kesuksesan seperti sekarang ini,
Spanyol dulu kerap bermasalah dengan yang namanya primordial alias
kedaerahan, di mana skuad bertabur pemain berbakat dari berbagai suku
seperti Castilla, Basque, Catalan, Andalusia dan lain-lain.
Problem itu pula yang dinilai sebagai penyebab sulitnya Spanyol berprestasi dan dulu kerap dijuluki tim spesialis kualifikasi.
Masalah
kedua datang dari absennya dua pemain kuncinya, yakni David Villa serta
Carles Puyol yang masih berkutat dengan cederanya masing-masing. Villa
adalah top skorer sepanjang masa yang juga peraih sepatu emas di Piala
Eropa 2008 dan Piala Dunia 2008.
Maka kehilangan Villa disertai
Fernando Torres yang masih bermasalah dengan kepercayaan dirinya,
Spanyol diprediksi akan kesulitan mencetak gol. Sementara itu Puyol,
meskipun sudah berumur tetap dianggap jenderal lini belakang yang
membuat Casillas nyaman di bawah mistar.
Dua masalah tersebut
plus juga keraguan mengenai motivasi para punggawa Spanyol menjadi juara
lagi jadi handicap mereka di turnamen ini. Maka adalah pekerjaan rumah
besar bagi pelatih Vicente Del Bosque untuk bisa mencari solusinya.
Sementara
itu rival utama macam Jerman dan Belanda justru tengah dalam
kepercayaan diri tinggi mengingat mereka punya banyak pemain muda yang
sedang haus gelar dan tengah dalam peak performance.
Siapa yang
tak terpukau melihat penampilan Der Panzer di bawah arahan Joachim Loew
yang membuat sepakbola "kaku" yang dulunya jadi khas Bangsa Aria itu tak
terlihat lagi. Lalu Belanda punya lini serang yang dahsyat di mana dua
top skorer liga top Eropa berada di sana, yakni Robin van Persie serta
Klaas Jan Huntelaar.
Belum lagi ancaman juga datang dari Italia
yang sedang berevolusi selama ditangani Cesare Prandelli, Prancis yang
tengah menikmati era baru bersama Laurent Blanc atau dua kuda hitam,
Inggris serta Portugal, yang bisa mengejutkan setiap saat.
Tapi Del Bosque bukan pelatih sembarangan dan dengan
curriculum vitae-nya
sebagai eks pelatih Real Madrid dengan dua titel La Liga plus dua trofi
Liga Champions, orangtua yang satu ini punya segudang inovasi baru di
dalam otaknya.
Satu yang paling terlihat adalah penggunaan strategi "
false 9" di mana ia kerap memainkan Cesc Fabregas menggantikan peran striker pada formasi 4-3-3 yang terlihat menjadi 4-6-0.
Bukan
tanpa alasan Del Bosque tentunya menggunakan taktik ini mengingat
ketiadaan Villa membuatnya harus memutar otak untuk mencari siapa yang
akan ditugaskan mencetak gol. Plus mengantisipasi lawan yang bisa jadi
akan menumpuk banyak pemain tengah untuk mengimbangi superiotas lini
tengah Spanyol yang diisi trio Xavi-Xabi Alonso-Sergio Busquets.
Taktik
ini pun tak lepas dari kritik karena dianggap membuat permainan Spanyol
menjadi membosankan dengan terlalu seringnya mengoper tanpa adanya
eksekusi di depan gawang. Tapi justru gaya baru dari Del Bosque ini
cukup ampuh untuk membuat lawan kewalahan dan terkuras fisiknya.
Duel
kontra Italia dan Kroasia di fase grup plus lawan Prancis di
perempatfinal jadi buktinya keampuhan taktik Del Bosque itu. Di saat
lawan mulai kelelahan, Del Bosque lantas memasukkan tiga kartu AS-nya
yakni Fernando Torres, Jesus Navas dan Pedro Rodriguez yang ditugaskan
untuk meningkatkan tempo permainan Spanyol dan menarik lawan untuk
bermain lebih ke sisi lebar lapangan.
Dan laga final kontra
Italia yang "berat sebelah" juga jadi jawaban atas segala kritikan yang
menerpa Spanyol. Selain soal penggunaan
"False 9", kejelian Del Bosque lainnya adalah menempatkan Sergio Ramos dan Gerard Pique sebagai tembok tebal di depan Casillas.
Hanya
satu gol yang bersarang di gawang Casillas tak lepas dari peran kedua
pemain yang awalnya diragukan bakal bisa klop bermain bersama, mengingat
Ramos dan Pique bermain bagi Madrid serta Barca.
Tapi keduanya
menjawab segala isu mengenai ketidakharmonisan yang beredar sebelum
turnamen dengan penampilan kelas wahid di area pertahanan Spanyol.
Khusus untuk Ramos, Del Bosque pantas berterima kasih pada Jose Mourinho
yang memainkan bek 26 tahun itu di pos bek tengah di paruh kedua musim
akibat cedera berkepanjangan Ricardo Carvalho.
Tak ada lagi
permainan keras menjurus kasar yang diperlihatkannya dan bek yang tampil
dengan potongan rambut pendeknya terlihat bermain lebih tenang dan
elegan. Acuannya adalah Ramos menempati posisi teratas dalam Indeks
Castrol, mengungguli Cristiano Ronaldo dan Pique.
Dua faktor
itulah yang kemudian saya nilai sebagai kunci utama mengapa Spanyol
akhirnya berhasil mementahkan segala keraguan serta klenik yang
mengatakan tidak ada tim yang bisa mempertahankan titel juara Eropa.
Selain tentunya juga penampilan luar biasa Andres Iniesta sepanjang
turnamen.
Namun terlepas dari faktor-faktor itu, ada kesimpulan
yang bisa diambil yakni keyakinan Spanyol akan sepakbola tiki-taka
mereka menjadi jawaban atas mengapa trofi Henry Delaunay bisa
dipertahankan. Meski didera banyak kritik karena gaya bermainnya
dianggap "membosankan", tapi Casillas dkk tahu bahwa tiki-taka lah yang
sudah membawa mereka seperti sekarang dan hanya dengan cara itu lah
kesuksesan (kembali) bisa diraih.
"Sepakbola tidak hanya punya
satu gaya. Yang terpenting adalah mencetak gol. Para pemain kami punya
intelejensia tinggi dan kami punya skuat yang seimbang. Kami memang
memiliki striker, tapi kami memilih untuk memainkan pemain yang sesuai
dengan gaya kami," ucap Del Bosque.
Di saat para raksasa seperti
Jerman, Belanda, Italia serta Inggris bisa dibilang tak lagi bermain
dengan identitas sepakbola mereka sebenarnya, Spanyol seperti
mengajarkan bahwa menjadi diri sendiri adalah jalan terbaik untuk meraih
kesuksesan.
sumber:
http://sport.detik.com/pialaeropa/read/2012/07/04/114518/1957368/1380/spanyol-yang-selalu-jadi-diri-sendiri